Pengacara AJS Desak Korban Perampokan Pondok Indah Jujur dan Mau Dikonfrontir

Pengacara AJS Desak Korban Perampokan Pondok Indah Jujur dan Mau Dikonfrontir

Mei Amelia R - detikNews
Selasa, 06 Sep 2016 07:02 WIB
Pengacara AJS Desak Korban Perampokan Pondok Indah Jujur dan Mau Dikonfrontir
Pengacara AJS (Foto: Mei Amelia/detikcom)
Jakarta - Tim pengacara AJS (38), meminta Asep Sulaiman untuk mengungkapkan kejujuran terkait permasalahan yang melatar belakangi peristiwa 'perampokan'. Pensiunan PT ExxonMobil itu juga didesak agar mau dikonfrontir.

"Saya harapkan begini, jujur pengakuan dari korban, sehingga kami tidak terlalu jauh untuk mengungkapkan ini. Karena yang bermasalah ini bukan klien kami. Klien kami hanya dibantu untuk menyelesaikan masalah, yang bermasalah ada di korban ini," jelas Apolos Jara Bonga selaku kuasa hukum AJS, Senin (5/9/2016) malam.

"Jadi kami minta korban untuk jujur mengatakan permasalahan sebenarnya," tambah dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Apolos, kliennya dengan korban punya hubungan baik sebelumnya. Bahkan AJS sempat menjadi pengawal korban ketika dirinya bekerja sebagai sekuriti di PT ExxonMobil.

"Yang penting ada hubungan baik antara klien kami dengan korban. Karena hubungan baik itu, dia datang ke sana untuk menyelesaikan," imbuh dia.

Kedatangan AJS yang kemudian disebut polisi sebagai upaya perampokan ke rumah korban adalah untuk keperluan sesuatu yang bersifat pribadi yang belum bisa diungkap ke publik. Pengacara menyebut tujuan kliennya ke situ adalah untuk mendamaikan permasalahan korban.

"Motifnya privasi. Jadi begini, motifnya itu untuk kebaikan mendamaikan orang. Siapa nanti yang didamaikan, tentu inputnya bukan dari kami saja. Kepada korban perlu supaya seperti apa, apa sih, pertemuan apa sih antara klien kami dengan korban ini. Kan tidak mungkin orang tiba-tiba datang menyelesaikan masalah," beber dia.

Hanya saja, Apolos tidak menjelaskan secara gamblang ada permasalahan apa sehingga membuat AJS harus menemui korban dengan tindakan yang akhirnya menimbulkan pidana. "Ini yang saya sampaikan ini masalah privasi. Nanti kan informasinya bisa didapat dari pihak korban," imbuh dia.

Persoalannya, korban mengaku kepada polisi bahwa dirinya tidak mengenal pelaku. Apalagi jika dilihat dari cara-cara pelaku datang ke rumah korban yang sangat tidak lazim dilakukan oleh orang yang sudah saling mengenal sebelumnya.

Bukannya menjelaskan persoalan apa yang menjadi latar belakang permasalahan tersebut, Apolos justru meminta korban untuk berkata jujur dan mau dikonfrontir oleh penyidik.

"Supaya lebih sinkron antara keterangan klien kami dengan korban. Saya kira tahap berikut setelah konfrontir. Kan beda ketika sebelum dan setelah kontrontir. Kalau sudah dikonfrornitr kan ada benang merahnya," lanjut dia.

"Nanti ada acara proses hukum ini yang bisa dikonfrontir lagi. Kalau dimediasi dengan media tidak mau diungkapkannya, konfrontir bisa dilakukan penyidik, atau kami minta ke penyidik atau di pengadilan. Kita minta konfrontir," sambung dia.

Lebih jauh, Apolos mengakui bahwa tindakan yang dilakukan kliennya itu tidak benar. Tetapi menurutnya, langkah itu ditempuh kliennya karena keterpaksaan lantaran korban susah ditemui. "Kalau bisa saya katakan memang cara klien kami ini seperti koboi," ucapnya.

Soal mengapa AJS membawa senpi, menurut Apolos bahwa senjata api itu pun tidak digunakan untuk mengintimidasi korban. "Bukan. Senpi itu tidak menyelesaikan masalah itu. Senpi itu instrumen supaya bisa bertemu. Karena datang baik-baik bapak nggak ada, datang malam pun bapak belum pulang. Tidak (intimidatif). Setelah bertemu dengan yang bersangkutan bicaranya baik-baik," paparnya.

Namun ia menegaskan, AJS tidak punya niatan untuk merampok. Bahkan sebelum melancarkan aksinya itu, AJS sempat mengutarakannya kepada temannya.

"Yang penting saya jelaskan, Sebelum dia melakukan tindakan ini, ada kawan-kawan dia yang dia ceritakan, (bahwa) dia sementara dalam waktu dekat ini dia menangani case yang cukup berindikasi sangat berbahaya bagi dirinya kalau salah penanganan. Jadi sebenarnya ada beberapa orang. Kan gak mungkin dia kasih tahu teman-temannya kalau mau melakukan perampokan," pungkasnya.

(mei/Hbb)


Berita Terkait