Doodle tersebut ternyata menarik bagi Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Dia bahkan mengambil potongan gambar tersebut dan menyebarkannya melalui media sosial miliknya seperti facebook, twitter, hingga instagram.
Menurut Dedi, hal tersebut sengaja dilakukannya karena selama ini dalang kelahiran 3 September 1955 itu adalah salah satu sosok 'hero' dari tanah Sunda. Dalang yang wafat pada 31 Maret 2014 itu dianggapnya sebagai profesor yang mampu membawakan nilai-nilai ketuhanan dengan menggunakan bahasa kebudayaan namun tetap dipahami oleh orang awam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca Juga: Asep Sunandar Mendalang di Google Doodle
Terlebih, kata Dedi, sang dalang tersebut memiliki kemampuan luar biasa dengan mengeluarkan resonansi suara yang khas setiap membawakan lakon atau tokoh tertentu. Dengan suara khasnya itu membuat para penonton seolah terhipnotis sehingga pesan yang disampaikan akan dicerna sangat mudah.
Pria yang akrab disapa Kang Dedi itu berharap generasi muda bisa meneruskan kesenian wayang golek. Agar lebih kekinian, sebagai seniman Dedi pun tak mempermasalahkan jika dalang masa kini menggabungkan unsur tradisional dengan pop modern agar pertunjukan wayang golek semakin menarik.
"Misalnya, sesi pertama bolehlah kawihnya Kidung, atau kawih Sunda yang lain. Tapi sesi selanjutnya bisa dimasukan juga musik dangdut, musik pop, bahkan rock. Ini agar generasi muda tidak bosan saat menonton pertunjukan wayang. Durasi juga diubah jangan semalam suntuk, cukup mulai jam delapan malam sampai tengah malam," ucapnya.
![]() |
Disinggung soal lakon favorit wayang golek versi Ki Asep Sunandar Sunarya, Dedi mengatakan, ada beberapa yang paling dia sukai. Diantaranya lakon ketuhanan berjudul Budak Buncir, lakok kepahlawanan berjudul Gatot Kaca Gugur dan Kumbakarna Gugur.
Saat ini anak bungsu Dedi bernama Yudistira Manunggaling Rahmaning Hurip yang masih duduk di bangku kelas VII di SMPN 1 Purwakarta pun sudah menggeluti dunia perdalangan sejak masih kecil. Bahkan kini Yudistira telah mulai sering mendapat panggilan untuk menjadi wayang diberbagai acara kelas lokal, regional, hingga nasional.
(imk/imk)












































