Eko mengatakan, kerjasama akan lebih efektif jika langsung diimplementasikan di bidang pemberdayaan. "Kami sangat senang jika Australia mau bekerjasama khususnya dalam hal pemberdayaan. Kami berharap agar bantuan yang diberikan kepada kami bukan berupa uang," kata Eko dalam keterangan pers yang diterima detikcom, Jumat (2/9/2016).
Eko mengatakan, desa saat ini membutuhkan pengetahuan agar mampu mengolah bahan baku menjadi bahan setengah jadi. Bahkan menurutnya, akan lebih baik jika masyarakat desa nantinya mampu mengolah produk desa menjadi makanan siap olah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paul Grigson sepakat jika kerjasama dilakukan pada bidang pemberdayaan. Ia menawarkan program pelatihan leadership (kepeminpinan) bagi pemimpin dan pendamping desa.
"Bagaimana jika program pelatihannya berupa training of trainers, khususnya bagi pendamping desa, atau pelatihan bagi para pemimpin desa mengenai leadership. Yang nantinya para pendamping tersebut bisa meneruskan pelatihan kepada masyarakat," katanya.
Selain itu Paul juga menawarkan program pengolahan pertanian dan peternakan. Paul mengajak Kemendes PDTT bekerjasama di bidang pendidikan, yakni dengan memberikan beasiswa bagi masyarakat desa.
"Beberapa universitas di Australia telah berkolaborasi dengan beberapa universitas di Indonesia, di antaranya Universitas Tazmania yang berkolaborasi dengan UGM, dan Universitas Queensland yang berkolaborasi dengan UI," katanya.
(jor/yds)











































