Survei dilakukan dengan metodologi yakni jumlah sampel 440 responden di 44 kelurahan yang tersebar di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu pada 22-28 Agustus 2016.
Metode dalam simulasi dilakukan dengan cara memaparkan sejumlah nama pasangan dan menanyakan kepada responden akan memilih siapa jika pilkada dilakukan pada hari itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita melihatnya kandidat mana punya potensi maju dan menang di Pilkada kita pasangkan. Kita selaraskan yang punya potensial untuk jadi lawan tangguhnya Ahok," ujar Julpan Haris, Direktur Riset LSPI dalam konferensi pers Mengukur Kekuatan Petahana & Penantang Potensial Pilkada DKI Jakarta di Hotel Sofyan Tebet, Jaksel, Jumat (2/9/2016).
"Ahok-Djarot bertengger puncak teratas survei karena elektabilitas dan poularitas mereka tinggi dibanding calon lain. Ahok-Djarot hari ini yang punya kewenangan di Jakarta. Wajar jika mereka sampai hari ini posisinya teratas," lanjutnya.
Sedangkan untuk simulasi head to head, hasil survei LPSI menunjukkan pasangan Ahok -Djarot masih tetap unggul 48 persen dengan lawan Yusril Ihza - Saefullah 36,2 persen.
Kendati memimpin hasil survei, Julpan menyebut angka tersebut belum cukup bagi Ahok-Djarot untuk dianggap menang dalam Pilkada. Sebab, untuk DKI Jakarta syarat jumlah suara pemenangan yakni 50 persen + 1.
Dengan hasil tersebut, jika nantinya Pilgub DKI terdiri dari tiga pasangan, maka potensi terjadinya pilkada dua putaran sangat tinggi.
"Belum ada calon yang dianggap memenangkan pilkada jika pilkada dilakukan hari ini. Di DKI ada peraturan 50 persen + 1. Harus putaran dua. Kalau bisa memenangkan swing voter dia layak menang pilkada," jelas Julpan.
(van/van)











































