Koordinator konsultan pembimbing ibadah Profesor Aswadi mengajak para jemaah untuk mengingat kembali kisah Ibrahim yang diuji oleh Allah SWT untuk mengorbankan anaknya. Ada makna dan hikmah yang bisa diambil dari peristiwa tersebut sampai kini menjelang prosesi haji.
Aswadi bercerita, suatu waktu Ibrahim pernah berdoa pada Allah SWT berharap diberikan keturunan. Keinginannya itu sangat kuat, bahkan sampai bernazar, akan melakukan apapun pengorbanan yang diperintahkan bila doa itu terkabul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karaguan itu juga dinamakan keganjilan. Atau Tarwiyah. Jadi Tarwiyah itu malam keganjilan, kenapa kok ada perintah mimpi menyembelih anak," cerita Aswadi saat berbincang di kantor Daker Makkah, Syisyah, Makkah, Kamis (1/9/2016).
Ternyata, keesokan harinya atau tanggal 9 Dzulhijah mimpi itu terulang. Dari situ, Ibrahim semakin yakin bahwa ini adalah perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Ismail. Mimpi dua kali dianggap sebagai wahyu, bukan bisikan dari setan.
"Karena itu dia sadar. Mimpi itu bukan dari nafsunya, melainkan dari Allah SWT untuk membuktikan janjinya kalau Nabi Ibrahim waktu pengin punya anak, dia siap mengorbankan apa saja. Kesadaran ini dinamakan Arafah," terang Guru Besar UIN Sunan Ampel ini.
Dalam suasana demokratis, Ibrahim kemudian menyampaikan mimpi itu kepada Ismail dan meminta pendapatnya. Tanpa pikir panjang, Ismail rupanya bersedia dan tak ada keraguan sedikit pun.
"Anaknya merespons dengan penuh kebaikan. 'Laksanakan saja, Yah. Insya Allah Allah akan menjumpai saya dengan kesabaran'. Kira-kira begitu respons Ismail," terang Aswadi.
Namun, momen ini ikut direcoki oleh setan. Ibunda Ismail sempat tergoda dan mempertanyakan alasan Ibrahim hendak menyembelih anaknya. Ibrahim dan Ismail pun ikut digoda. Anak lelaki yang mereka idam-idamkan kenapa harus disembelih? Itu kira-kira pertanyaan yang dibisikkan setan pada keluarga tersebut.
Akhirnya, Ibrahim dan keluarganya berhasil melawan godaan tersebut. Setan yang membisiki hati mereka dilempar dengan batu yang diiringi dengan pekik 'Bismillahi Allahuakbar'. Di sinilah momen lempar jumrah itu muncul dan jadi prosesi haji kini.
"Akhirnya semua sepakat agar keinginan itu segera dilaksanakan. Tepat tanggal 10 Dzulhijah, Ismail diikat, tapi ketika mau disembelih, tiba-tiba beliau digantikan domba yang sangat besar," urainya.
Kisah Ibrahim dan Ismail ini adalah simbol bentuk ujian Allah SWT terhadap umatnya. Bagaimana keteguhan hati dalam menjalankan perintah sang Khalik diuji dengan godaan setan. Prinsipnya, godaan itu hanya bisa dilawan dengan kekuatan hati
Sebelumnya Aswadi juga pernah berpesan agar jemaah menghayati setiap ritual haji dengan sungguh-sungguh. Misalnya saat wukuf yang berarti berhenti. Jemaah diminta untuk melangitkan harapan kepada Allah agar diberi kemampuan meninggalkan yang tidak benar. Harapan lainnya adalah agar diberi kekuatan istiqamah sehingga bisa melaksanakan nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah sepanjang zaman.
"Setelah meminta kemampuan meninggalkan yang tidak benar dan melaksanakan yang baik harapan lainnya adalah supaya setiap kita dapat mengembangkan kebaikan kepada orang lain sehingga mereka yang saat ini sedang mengalami kesulitan mendapat kemudahan dari Allah," ujar Aswadi.
Sementara mengambil kerikil di Muzdalifah dimaknai sebagai mengambil penyakit di hati yang paling dalam. Setelah itu, kerikil berisi penyakit hati dibuang di jamarot. Dengan demikian, setelah prosesi haji, hati kita akan bersih dari sifat-sifat buruk.
"Ini juga momentum penting untuk menjaga kebersihan dan ketulusan dan membuangnya dengan rido Allah SWT," tambah Aswadi.
Karena itu, dia mengingatkan agar para jemaah melakukan ritual haji dengan sungguh-sungguh. Doa yang disampaikan pun mesti benar-benar dihayati dan dilaksanakan setelah nanti kembali ke Tanah Air. (mad/aan)











































