"Jadi variabel-variabel terorisme yang terjadi sekarang sudah mulai bergeser ke orang-orang intelektual, bukan hanya kampus, tetapi sampai tingkat SD. Ada anak SD yang sudah dilatih bagaimana cara memegang senjata, bagaimana cara menembak. Ini juga salah satunya akibat peran dari sosial media," kata Suhardi di Gedung ICMI, Jl Proklamasi No. 53, Jakpus, Jumat (2/9/2016).
Kalangan intelektual yang lebih melek teknologi disebut Suhardi menjadi penyebab bergesernya penyebaran paham terorisme. Bahkan, banyak pelaku terorisme yang belajar dari media sosial dan internet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Media massa adalah sarana pembentukan opini masyarakat. Maka dari itu diharapkan jangan sampai dengan pemberitaan yang tidak objektif malah menimbulkan kekacauan. Seperti yang kasus istri Santoso, padahal yang menggiring istri nya juga ada polwan, tetapi masyarakat berasumsi istri Santoso diperlakukan secara keras oleh polisi laki-laki. Maka dari itu saya setiap dua bulan sekali akan mengumpulkan pemimpin redaksi untuk sama-sama duduk bareng untuk menyatukan persepsi. Karena peran Pemred itu sangat besar," tegasnya.
Sementara itu, Ketum ICMI Jimly Asshiddiqie menyatakan pihaknya siap bekerjasama dengan BNPT untuk menumpas penyebaran paham terorisme di kalangan akademik, ICMI, menurut Jilmy telah menggandeng beberapa organisasi yang memiliki pengaruh kuat di kalangan akademis.
"Maka dari itu kita bekerjasama dengan BNPT mengenai masalah pemberantasan terorisme yang sedang terjadi. Kami sadar, kami tidak bisa berdiri sendiri dalam mengatasi hal ini, harus dengan kerjasama dengan berbagai pihak. Saya juga sudah merangkul NU, Muhammadiyah, organisasi seperti KAMMI, HMI, dan lain-lain untuk sama-sama memberantas teroris. Peradaban Indonesia tidak bisa ditopang dengan kekerasan. Marilah sama-sama kita kaum Islam moderat juga saling bersatu," ungkap Jimly.
(Hbb/fjp)










































