Pakon dalam Festival Paer Lenek, Cara Pengobatan Kuno Warga Sasak

Pakon dalam Festival Paer Lenek, Cara Pengobatan Kuno Warga Sasak

Ahmad Masaul Khoiri - detikNews
Jumat, 02 Sep 2016 05:00 WIB
Pakon dalam Festival Paer Lenek, Cara Pengobatan Kuno Warga Sasak
Foto: Ritual sebelum pementasan Tarian Pakon (Masaul/detikcom)
Lombok -

Festival Paer Lenek malam ini mementaskan Pakon sebagai klimaksnya. Tarian yang penuh dengan ritual magis ini dipercaya warga Sasak kuno dapat mengobati penyakit.

Festival Paer Lenek tahun ini mendapat dukungan dari Pemda NTB melalui Disbudpar yang merangkaikannya dengan BBLS (Bulan Budaya Lombok Sumbawa) dan dapat dilakukan seminggu penuh. Festival ini dilaksanakan di Rumah Budaya Paer Lenek, Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, NTB.

Kembali ke Pakon, kata M Tahir Royaldi (46) seorang penasehat Rumah Budaya Paer Lenek, tarian ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Selaparang. Para penari yang sudah didoakan sebelumnya akan mengalami kekebalan terhadap bara api.

Foto: Ritual sebelum pementasan Tarian Pakon (Masaul/detikcom)

"Sebelum ada dokter sudah ada pengobatan ini. Itu magis sekali. Dia tidak terbakar api, ada doa dari Nabi Ibrahim. Kita orang Sasak tidak ateis tapi Islam menyempurnakan," kata Tahir, Kamis (1/9/2016).

Prosesi Pakon diawali dengan beberapa perempuan membawa sesaji, termasuk di dalamnya ada sebuah kemenyan yang sudah dibakar. Penembang yang bernyanyi dalam bahasa Sasak terasa nyaring mengikuti iringan melodi Suling Belo.

Terlihat orang yang akan menari di atas bara api terlebih dahulu diasapi dengan kemenyan. Ia dibacakan doa-doa oleh seorang spiritualis. Lalu tubuhnya diselimuti oleh kain putih beberapa saat. Doa-doa masih dipanjatkan dan spiritualis kemudian memukul kaki penari menggunakan sebuah alat.

Foto: Pementasan Tarian Pakon (Masaul/detikcom)

Penari pun seperti tak sadar diri, ia lalu menari. Musik pun bertambah keras yang semula hanya suling disahut pula oleh tim karawitan. Bara api yang terbuat dari tepurung kelapa ditaburkan di panggung penari dan penari pun menginjak-injaknya tanpa kelihatan mimik kepanasan.

Warga yang melihatnya pun mulai riuh. Semakin riuh maka menambah semangat para penari. Tarian ini kurang lebih berlangsung selama 30 menit.

"Penari ini keseluruhannya orang lanjut usia. Kita tampilkan yang tua untuk memberi pembelajaran yang muda-muda. Ada penari yang muda juga," kata Tahir.

Mengakhiri prosesi tarian, tamu undangan naik ke atas panggung untuk melakukan ramah tamah dengan penari. Kata Tahir, perempuan yang menari di atas bara adalah sebagai lakon utamanya. Seorang pria di dalamnya yang memakai baju putih merupakan spiritualis. (hri/hri)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads