Tarjo, sudah empat tahun tinggal di gubuk di pinggir aliran Sungai Pemali. Gubuk tak layak huni berukuran 1,5x2,5 meter itu tak dilengkapi sarana air bersih, MCK, dan aliran listrik.
Seperti disampaikan Mbah Tarjo, Kamis (1/9/2016), untuk penerangan sehari-hari kala malam tiba, dia menggunakan lampu minyak. Untuk air bersih, dengan menggunakan ember dia meminta ke tetangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Seringkali malahan Mbah Tarjo makan nasi aking, nasi basi sisa-sisa yang dia cuci dan dijemur. Beruntung Mbah Tarjo sering mendapat bantuan makanan dari tetangga yang perduli.
Sambil menerawang, wajah sedihnya bertutur mengenai istri dan tiga anaknya. Sudah lama dia bercerai dengan istrinya, sedangkan dua anaknya sudah meninggal dunia. Ada anak bungsu tetapi tak ada kabar berita.
Dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang ada, setidaknya Mbah Tarjo masih bersyukur karena meskipun kakinya sudah rapuh tapi masih bisa bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Nasib Mbah Tarjo ini sudah sampai ke telinga Kapolres Brebes AKBP Luthfie Sulistiawan. Tim Polres Brebes segera memberikan bantuan bedah rumah, makanan, dan perawatan untuk Mbah Tardjo. (dra/dra)












































