Melek Laman Digital di Tanah Rantau, Catatan Road Show Jihad Selfie di Korsel

Melek Laman Digital di Tanah Rantau, Catatan Road Show Jihad Selfie di Korsel

Noor Huda Ismail* - detikNews
Rabu, 31 Agu 2016 14:23 WIB
Melek Laman Digital di Tanah Rantau, Catatan Road Show Jihad Selfie di Korsel
Roadshow pemutaran film Jihad Selfie di Seoul (Foto: Istimewa)
Seoul - Sejak November 2015 hingga Juni 2017, terdapat 7 WNI yang telah ditangkap dan dipulangkan oleh pemerintah Korea Selatan karena diduga terseret dalam pusaran konflik di Suriah. Keterlibatan mereka adalah melalui media sosial.

Secara terbuka, sebagian dari mereka mengaku memberikan dukungan finansial kepada jejaring radikal yang bertautan dengan ISIS. Namun ada pula yang hanya "gagah-gagahan" mengunduh foto diri yang heroik dengan membawa senjata mainan AK 47 dan bendera ISIS.

Jumlah tujuh orang itu sangatlah kecil jika dibandingkan dengan jumlah WNI di negeri ginseng ini. Berdasarkan catatan KBRI di Korea Selatan, total WNI mencapai 39.686 orang. Sebanyak 82,7% diantaranya adalah TKI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu pelajaran apakah yang bisa kita petik dari kejadian ini?

Setelah melakukan pemutaran film Jihad Selfie di depan ratusan TKI Korea Selatan, beberapa catatan penting terpikir untuk diberikan pada pemerintah. Roadshow yang melibatkan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr Nazarudin Umar ini berlangsung sejak tanggal 27 hingga 30 Agustus 2016.

Pertama, karena bagusnya kualitas internet di Korea Selatan dan canggihnya HP yang mereka gunakan, mayoritas TKI mempunyai akses informasi yang mudah dan cepat. Hal ini terlihat dengan cekatannya para TKI mengunggah diskusi film Jihad Selfie secara live di Facebook dan YouTube.

"Mas, boleh saya upload film mas ini ke YouTube," tanya mereka.

"Wah jangan dulu mas. Ada hal-hal yang sensitif dalam film yang harus kita diskusikan," jawab saya.

"Bisa nggak kapan-kapan kita belajar diajarin bikin film seperti itu?" tanya TKI yang hobi fotografi dan membawa kamera DSLR terbaru.

Melihat reaksi ini, alat, akses informasi dan dana bukanlah masalah bagi mereka. Rata-rata para TKI ini bergaji antara 15 sampai 30 juta per bulan.

Kedua, tanpa bermaksud merendahkan, rata-rata TKI yang hadir dalam diskusi ini mempunyai pendidikan yang relatif rendah. Tidak sedikit yang berangkat ke negeri K-Pop ini hanya membawa ijazah setingkat sekolah menengah. Sehingga kemampuan mereka mengolah informasi sangatlah terbatas. Terutama informasi yang diproduksi oleh situs-situs dan laman internet yang kualitas isinya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

"Ustad ini keren lho mas," seorang TKI menunjukkan sebuah ceramah seorang ustad di laman YouTube.

"Kenapa keren," tanya saya.

"Soalnya dia tegas dan pinter sekali memberikan dalil-dalil dalam Bahasa Arab," jelasnya.

TKI yang mendekati saya setelah acara diskusi selesai ini bukanlah seorang TKI berfaham radikal apalagi mendukung kekerasan ketika berangkat ke Korea Selatan. Dia bahkan mengaku tidak rajin solat ketika masih berada di Indonesia. Wajar jika dia terpana dengan ulasan fasih Bahasa Arab sang ustad.

"Ada teman kerja saya dari Indonesia itu setiap waktu istirahat dia langsung solat. Saya tertariklah mas untuk menjadi baik juga," cerita dia polos.

"Kalau mau belajar Islam, lihat saja ceramah ustad Fulan di YouTube," tambahnya. "Bahasa Arab dia mantaplah."

Foto: Istimewa

Barangkali, inilah fenomena spiritualitas baru di tanah rantau. Yaitu munculnya kehausan siraman rohani di tengah gempuran modernitas Korea Selatan. Namun, mereka menghilangkan dahaga rohani tersebut bukan di masjid atau kajian majlis taklim tradisional.

Mereka secara praktis mendengarkan ceramah para ustad yang 'ngetop' di YouTube di sela-sela mereka istirahat kerja atau di kamar mereka setelah selesai bekerja. Oleh karena itu, jangan harapkan mereka mengkritisi apa yang disampaikan para ustad tersebut.

Bagi para TKI ini, para ustad YouTube ini adalah guru spiritualitas mereka. Para ustad YouTube inilah yang mereka undang untuk hadir di Korea Selatan untuk memberikan ceramah akbar ketika mereka libur. Ribuan jamaah akan hadir dan miliaran rupiah dana terkumpul setelah acara tersebut.

Para ustad YouTube ini bukanlah ustad yang mengajak mereka untuk mendukung kekerasan. Namun tampaknya sang ustad belum mengajak para jamaah yang hadir untuk mengembangkan tradisi melek laman digital. Yaitu, tidak menelan mentah-mentah informasi yang muncul di internet.

Lemahnya budaya berfikir kritis inilah yang bisa menjadi pintu masuknya faham radikal. Biasanya, faham ini disebarluaskan oleh orang-orang yang relatif baru mengenal atau mempelajari agama. Mereka tidak memiliki latar belakang pesantren dan cenderung enggan mengikuti kajian-kajian yang diadakan oleh komunitas-komunitas Islam arus utama seperti NU dan Muhammadiyah. Barangkali karena merasa benar sendiri itulah mereka mudah menyalahkan kelompok lain dengan menyebut mereka sebagai "kafir" atau "thogut".

Melihat fenomena ini, barang kali pemerintah Indonesia bekerja sama dengan organisasi Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah untuk mengirimkan para ustad dari kalangan moderat yang mampu berfikir kritis terhadap informasi di internet ke negara-negara di mana banyak WNI kita bekerja.

Para ustad ini harus mampu mendorong para jemaah untuk melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima oleh para jamaah di laman digital. Hal yang paling sederhana yaitu dengan mengecek kebenaran sumber berita dari berbagai sumber salah satunya melalui Google.

Setelah informasi itu dicari bandingannya di Google, jamaah hendaknya dianjurkan untuk tidak bersikap eksklusif dengan memperluas jaringan pergaulan seluas-luasnya.

Kesadaran seperti ini harus menjadi sebuah kesadaran bersama agar tidak ada diantara mereka kemudian terseret ke dalam pusaran radikalisme seperti ketujuh WNI yang telah dideportasi tersebut. Kita semua tidak mau jika ada "nila setitik, rusak susu sebelanga" bukan?


*Sutradara film Jihad Selfie yang sedang menyelesaikan PhD Politik dan Hubungan Internasional di Monash University Melbourne Australia. Dapat dihubungi di noorhuda2911@gmail.com. (trw/trw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads