detikNews
Rabu 31 Agustus 2016, 08:00 WIB

Ganjil Genap Belum Selesaikan Masalah, Transportasi Umum Masih Penuh Sesak

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Ganjil Genap Belum Selesaikan Masalah, Transportasi Umum Masih Penuh Sesak Halte busway yang selalu penuh saat jam pulang kantor (Foto: Nathania Riris Michico/detikcom)
Jakarta - Penerapan sistem ganjil genap di Ibu Kota dianggap masih belum maksimal. Sistem itu 'memaksa' pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke moda transportasi umum.

Namun sayangnya, moda transportasi umum yang ada di Ibu Kota yaitu bus TransJakarta atau TransJabodetabek serta KRL masih belum memuaskan. Armada yang belum memadai membuat penumpang tetap harus berdesak-desakan di kala jam berangkat dan pulang kantor.

Seperti tampak pada hari pertama pemberlakuan sistem itu pada Selasa (30/8/2016). Ketika jam pulang kantor, baik bus TransJakarta atau TransJabodetabek serta KRL diserbu penumpang.

Para penumpang yang tak kebagian kursi pun terpaksa berdiri, seperti disampaikan salah seorang penumpang TransJakarta bernama Haryo. Menurutnya, armada bus tersebut masih sangat minim.

Kondisi bus Transj Koridor I pada Selasa kemarin (foto: Nathania Riris Michico/detikcom)


"Saya setiap hari naik TransJ dan hampir setiap hari berdiri. Sebenarnya saya enggak masalah, cuma yang saya bingung emang busnya kurang? Setiap pulang kerja antara pukul 16.00-19.00 WIB selalu berdiri," ucap Haryo kepada detikcom di TransJ koridor I, Selasa kemarin.

Bahkan pegawai bank bernama Ardina, yang bekerja di Sawah Besar, Jakpus, mengaku kesal lantaran petugas sering membiarkan bus padat sesak oleh penumpang. Padahal bisa dibatasi jumlahnya, tidak perlu dibuat padat.

"Kadang itu saya suka sebelnya kalau sudah padat masih dibiarkan masuk, padahal sudah penuh. Mungkin maksudnya biar yang nunggu lama bisa masuk, tapi kita di dalam jadi sesak," kata Ardina.

Lalu bagaimana dengan kondisi KRL?

Pada Selasa kemarin, detikcom mencoba menumpang KRL di Stasiun Tanah Abang sekitar pukul 16.10 WIB. Kepadatan penumpang sudah terasa lantaran memang mendekati jam pulang kantor.

Salah seorang penumpang kereta bernama Tomy (20), mahasiswa Gunadarma yang naik dari Tanah Abang ke Pasar Minggu mengaku tidak nyaman dengan keadaan di kereta saat jam sibuk kerja. Namun saat di luar jam kerja, keadaan di kereta nyaman.

Kondisi KRL saat jam pulang kantor kemarin (foto: Ahmad Ziaul Fitrahudin/detikcom)


"Naik kereta nyamannya saat di luar jam kerja saja," ujar Tomy yang tidak tiap hari menggunakan kereta ini.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Andri Yansah mengaku akan menyiapkan 200 bus yang akan dioperasikan di titik-titik padat penumpang. Beberapa rekomendasi hasil evaluasi uji coba sistem ganjil genap memang dirumuskan.

"Masih ada 200 bus yang kita siapkan untuk melayani lonjakan penumpang. 200 bus akan kita operasikan di koridor-koridor yang demand (permintaan)-nya bertambah, maka kita akan tambah busnya," kata Andri di Balai Kota, Selasa kemarin.

Dia menyebut bus-bus baru itu bisa disebar di koridor-koridor yang ramai, seperti Koridor I, (Blok M-Kota) atau Koridor VI (Dukuh Atas-Ragunan). Pemprov DKI menunggu evaluasi permintaan penggunaan bus sebelum mengoperasikan bus-bus itu, karena pihak Pemprov DKI tidak ingin anggaran Public Service Obligation (PSO) terbuang sia-sia membiayai bus yang tidak diisi penumpang.

"Karena bus-bus itu kita bayar pakai PSO, sayang kalau kosong, inefisiensi," kata Andri.

Untuk penambahan bus dalam rangka peningkatan layanan angkutan umum, sebenarnya pada awalnya Dinas Perhubungan juga mengusulkan sistem ganjil genap untuk mendongkrak keterangkutan di bus TransJakarta. Hasilnya, kata Andri, keterangkutan di bus mengalami peningkatan 30 persen.

"Sebelum penghapusan sistem 3 in 1, ada 525 bus dengan angka keterangkutan penumpang per hari yakni 320.000 orang. Sampai kita dorong ke 804 bus, keterangkutan per hari itu hanya 380.000 orang. Padahal asumsi kita bisa mencapai 450.000 orang per hari. Kemudian kita dorong dengan sistem ganjil-genap ini," kata Andri.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan tentang situasi ruas jalan ganjil-genap yang dihimpun sampai 26 agustus 2016, tercatat ada peningkatan jumlah penumbang kendaraan bus TransJ, yakni sekitar 32,57 persen di Koridor I, 27,17 persen di Koridor VI, dan 30,55 persen di Koridor IX.

Tingkat waktu tempuh perjalanan pada jalur ganjil-genap juga mengalami penurunan sekitar 19 persen. Kecepatan kendaraan meningat sekitar 20 persen, dari rata-rata 24,16 km/jam menjadi 28,90 km/jam.

Penurunan volume kendaraan pada jam diberlakukannya ganjil genap sebesar 15 persen, namun relatif tetap dibanding hasil pemantauan per tanggal 15 Agustus 2016.

Headway (jarak antarkeberangkatan dan kedatangan bus Trans Jakarta) mengalami pemendekan pada Koridor I (pagi hari dari 4 menit menjadi 2 menit), Koridor IX (pagi hari dari 8 menit menjadi 7 menit dan sore hari dari 10 menit menjadi 8 menit). Namun Koridor VI yang terletak di jalur alternatif tidak mengalami perubahan headway.


(dhn/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com