DetikNews
Rabu 31 Agustus 2016, 01:45 WIB

Laporan Dari China

Bertemu Petinggi China, Golkar Bahas Pariwisata Hingga Laut China Selatan

Indah Mutiara Kami - detikNews
Bertemu Petinggi China, Golkar Bahas Pariwisata Hingga Laut China Selatan Pengurus Golkar ke China (Foto: Indah Mutiara Kami/detikcom)
Beijing - Delegasi pengurus Partai Golkar yang diundang oleh Partai Komunis China (PKC) bertemu dengan petinggi Republik Rakyat China yang setingkat wakil menteri. Kedua pihak membahas soal kerjasama ekonomi hingga isu Laut China Selatan.

Assistant Minister of International Department Communist Party of China (IDCPC), Li Jun menerima kedatangan delegasi pengurus Partai Golkar di Kantor IDCPC, Beijing, Selasa (30/8/2016). Di pemerintahan RRC, jabatan Li Jun setingkat dengan wakil menteri.

Pengurus Golkar ke China (Foto: Indah Mutiara Kami/detikcom)


Delegasi pengurus Partai Golkar yang dipimpin oleh Ketua DPP Bidang Hubungan Luar Negeri, Meutya Viada Hafid, sebelumnya sudah diajak mengunjungi 3 kota yaitu Nanjing, Nantong, dan Xi'an. Beijing adalah kota terakhir yang disinggahi selama 10 hari.

"Kami dari Golkar senang hubungan Golkar dan PKC tumbuh sejak 20 tahun lalu dan terus kuat. Partai kami jauh lebih muda. Kami perlu banyak belajar bagaimana menjaga kekuatan partai dari PKC yang sudah hampir 100 tahun," ucap Meutya di awal pertemuan.

(Baca juga: Diundang Partai Komunis China, Pengurus Golkar Berdialog dengan Warga Nanjing)

Golkar dan PKC sendiri sudah meneken MoU kerjasama antar partai pada 2008. Bentuk konkrit berupa berbagai kunjungan antara dua partai maupun multipartai terus dilakukan termasuk kunjungan saat ini.

Pengurus Golkar ke China (Foto: Indah Mutiara Kami/detikcom)


"PKC dalam pembangunan diri sangat mementingkan belajar dari parpol lain. Termasuk dari partai Golkar," ucap Li Jun.

Dia lalu menceritakan jatuh bangun PKC yang didirikan pada 2015 silam. Li Jun mengakui PKC pernah melakukan kesalahan, lalu bangkit lagi. Sejak memasuki era keterbukaan pada 1978, RRC mengalami perubahan yang luar biasa.

"Kami juga mengajukan target atau sasaran yang baru. Yang pertama adalah sampai tahun 2021 waktu ulang tahun PKC ke-100, China akan mewujudkan masyarakat yang cukup sejahtera," paparnya.

(Baca juga: Diplomasi Lagu 'Ayo Mama' yang Eratkan Golkar dan Pejabat Nantong)

Sementara itu, target kedua adalah pada tahun 2049 yaitu saat RRC berusia 100 tahun. Saat itu, RRC ingin menjadi negara yang maju menengah.

"Selama 95 tahun, PKC sudah mengalami berbagai pembelajaran. Yang paling penting adalah mencari satu jalan yang cocok dengan perkembangan domestik dan cocok dengan perkembangan zaman," tegas Li Jun.

Pengurus Golkar ke China (Foto: Indah Mutiara Kami/detikcom)


Di era globalisasi, RRC sadar tidak bisa menutup diri dalam hal perkembangan ekonomi. Oleh sebab itu, Li Jun mengatakan bahwa RRC siap berjalan berdampingan dengan negara-negara tetangga.

"Indonesia adalah negara besar yang merupakan tetangga RRC. Kedua negara sedang dalam fase perkembangan yang penting. Banyak peluang kerjasama. Beberapa tahun ini kerjasama kedua negara mencapai prestasi menonjol di infrastruktur, energi, dan maritim," jelasnya.

Meutya banyak sepakat dengan poin-poin pemaparan Li Jun. Menurutnya, PKC dan Golkar sama sama punya tangangan untuk menjaga konsistensi berkarya.

"Kami salut dengan PKC karena untuk menjaga konsistensi mendukung pemerintah, Partai Golkar sempat berkonflik selama setahun. Kini di bawah kepemimpinan Setya Novanto, Perintah beliau adalah langsung, semboyan Golkar sama dengan Presiden Jokowi yaitu kerja kerja kerja," ucap Meutya.

Dari kunjungan ke 4 kota di China, delegasi Golkar memiliki beberapa masukan untuk mempererat kerjasama Indonesia dan RRC. Yang pertama adalah Golkar mengajak RRC menambah foreign direct investment ke Indonesia. Di antaranya kerjasama infrastruktur dan pariwisata.

"Di Xi'an kami juga melihat peluang kerjasama pariwisata. Kami berharap RRC mendorong meningkatkan pariwisata ke Indonesia. Misalnya dengan penerbangan langsung ke Xi'an atau bebas visa untuk WNI ke China," ujar Wakil Ketua Komisi I DPR RI yang membidangi hubungan luar negeri ini.

(Baca juga: Ke Pengurus Golkar, Pejabat Shaanxi Cerita Pariwisata dan Kunjungan Soeharto)

Meutya berharap kerjasama perikanan antara RRC dan Indonesia meningkat. Juga peningkatan perdagangan dalam hal pertanian.

"Kami punya manggis yang manis dan enak yang dinikmati China, tapi dikirimnya harus lewat Singapura," ucap Meutya.

Ada pula pembahasan soal neraca perdagangan Indonesia di China yang defisit sebesar USD 14 miliar. Meutya menuturkan bahwa Indonesia akan lebih senang apabila ekspor Indonesia bisa meningkat.

Yang terakhir, Meutya mengangkat isu Laut China Selatan. Indonesia bukan claimant state dalam sengketa Laut China Selatan, namun Indonesia juga punya kepentingan untuk menjaga stabilitas.

"Indonesia ingin mengajak China sebagai dua negara besar. Sesuai dengan prinsip ramah bertetangga yang dimiliki China, Indonesia mengajak China untuk menjaga stabilitas dan keamanan di Laut China Selatan," tegas Meutya.

Li Jun sepakat dengan masukan-masukan dari Golkar termasuk soal direct flight ke Xi'an dan kerjasama pertanian. Dia juga setuju dengan pandangan Golkar soal kondisi di Laut China Selatan.

"Soal Laut China Selatan, saya setuju sekali. Memang hal yang lumrah kalau ada beda pendapat di antara tetangga. Yang penting konsultasi dan koordinasi harmonis agar masalah terjadi bisa dikontrol," jawab Li Jun.

(Baca juga: Sambutan Hangat Komunitas Muslim di Xian ke Pengurus Golkar)

Delegasi pengurus Golkar yang hadir bersama Meutya adalah Wasekjen Golkar Ace Hasan Syadzily, Ketua Departemen Hubungan Luar Negeri Golkar Emmalia Natar, Wasekjen Golkar Melki Laka Lena, Wabendum Golkar Selina Gita, Wabendum Golkar Sari Yuliati, Wabendum Golkar Ernawati Tahang, anggota Fraksi Golkar DPR Fauziah Pujiwatie, Anggota Departemen Pembangunan Daerah dan Pedesaan Marleen Jeanne Petta, serta Ketua Departemen Organisasi Golkar Rofiqul Umam. Ada pula Sekjen Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Andi Nursyam Halid, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri AMPG Syafaat Perdana, serta Wabendum AMPG Siti Harumi Prima Sari.

Sebagai penutup, Meutya menyampaikan bahwa masa depan Asia Pasifik ada di tangan China dan Indonesia. Dari kunjungan selama 10 hari, Golkar sudah 'mencuri' berbagai macam ilmu dari PKC.

"Yang kami juga belajar adalah tentang displin, konsisten akan ideologi, dan kerja keras. Kami angkat topi," ucap Meutya.

Pertemuan singkat selama 45 menit itu mencapai ujungnya. Li Jun mengucapkan terima kasih atas kedatangan delegasi Partai Golkar dan mengungkapkan keinginan PKC untuk terus belajar dari partai-partai lain termasuk Golkar. Li Jun pun menutup pertemuan dengan menirukan semboyan yang selama ini selalu diserukan Presiden Joko Widodo.

"Kerja! Kerja! Kerja!" seru Li Jun.
(imk/dhn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed