Dalam acara yang dihadiri oleh seribuan santri dan santriwati itu, Dedi mengajak agar para pemuda Islam bisa hidup mandiri dengan terus produktif meskipun menuntut ilmu di pesantren.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
"Orang Islam itu harus bisa mandiri. Setelah lulus kembangkan ilmu non formal yang di dapat di pesantren mulai dari bela diri, cara membuat roti, menanam sayur, hingga membuat paving block untuk disebarkan sebagai kebaikan di masyarakat," jelas Dedi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
"Jangan-jangan kita ini termasuk orang kafir. Kafir dalam artian tidak pandai mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan. Punya alam yang kaya dijual, untuk beli Mio (motor). Punya sawah, dijual untuk kawin lagi. Jangan-jangan kita ini adalah kafir," ucap mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Purwakarta itu.
Dedi meminta agar para calon cendekiawan muslim muda itu tidak melulu meributkan soal dalil-dalil. Pasalnya sering kali hal itu malah menimbulkan multi tafsir yang membuat perpecahan baru diantara umat Islam.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
Lebih baik, kata Dedi, hal tersebut dialihkan pada sesuatu hal yang sudah dianggap ilmu pasti. Salah satunya dengan menjaga dan melestarikan lingkungan juga alam sekitar dengan menggunakan metodologi keislaman yang telah dipelajari semasa menuntut ilmu.
"Kita sering kali lupa dengan 'dalil' yang pasti-pasti. Seperti kalau menebang pohon itu pasti terjadi longsor atau global warming, atau buang sampah ke sungai itu pasti banjir. Seharusnya itu yang disebut kafir," pungkas bupati yang akrab disapa Kang Dedi itu.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |












































Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom