Doktrin Jihad yang Salah Bikin Orang Berani Lakukan Bom Bunuh Diri

Doktrin Jihad yang Salah Bikin Orang Berani Lakukan Bom Bunuh Diri

Idham Kholid - detikNews
Senin, 29 Agu 2016 19:01 WIB
Doktrin Jihad yang Salah Bikin Orang Berani Lakukan Bom Bunuh Diri
Foto: istimewa/ seminar terorisme
Lamongan - Napi Teroris Ali Imron menjadi pembicara dalam seminar kebangsaan dan bela negara di Lamongan, Jawa Timur. Tidak hanya Ali Imron, napi teroris Umar Patek juga berbagi cerita dalam kesempatan itu.

Acara itu digelar di Hall Hotel Tanjung Kodok Beach Resort, Kecamatan Paciran, Lamongan Jatim, Senin (29/8/2016). Selain Ali dan Umar, Hj. Kartika Hidayati dan Dr. Hj. Sri Ayu Astuti dari unsur Muhammadiyah dan Yenny Wahid kita menjadi pembicara.

Ali Imron mengatakan, tidak ada hipnotis atau pencucian otak bagi pelaku bom bunuh diri. "Namun doktrin-doktrin jihad yang salah yang dilakukan terus-menerus itulah yang menjadikan seseorang berani dan yakin menjadi pelaku bom bunuh diri," kata Ali dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ali mengaku berkeinginan merubah citra Lamongan yang selama ini sangat negatif karena tindakannya dan saudara-saudaranya pada peristiwa bom Bali I, menjadi wilayah yang positif dan bebas dari Terorisme.

Sementara itu, Umar Patek yang selalu menjadi tim pengerek bendera merah putih dan terkahir pada peringatan 17 Agustus 2016 di Lapas Porong menyampaikan, rasa nasionalismenya telah tertanam sejak ia di bangku SMA, yaitu ketika dia dan regunya mendapat juara I cerdas cermat P4 secara berturut-turut selama 2 tahun.
Umar Patek saat menjadi Paskibraka

Umar mengatakan, pancasila yang tertuang dalam 36 butir dalam pengamalan pancasila jelas-jelas tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Al-Hadist, harusnya tetap menjadi prioritas di lingkungan pendidikan untuk membentengi generasi muda dari radikalisme dan terorisme.

Di lain sisi, Yenny Wahid menyampikan, hasil survey Wahid Foundation terhadap tingkat radikalisme masyarakat Indonesia adalah 0,4 % atau setara 600 ribu penduduk Indonesia pernah melakukan tindakan radikal.

"Dan sekitar 11 juta penduduk Indonesia berpotensi melakukan radikalisasi dan intoleransi. Namun 80% penduduk kita masih percaya terhadap pancasila," tuturnya dalam kesempatan yang sama.

Seminar yang mengusung tema 'Dengan Semangat Nasionalisme, Kita Hilangkan Radikalisme dan Terorisme dari NKRI' diprakarsai oleh Komando Resimen Mahasiswa Mahasurya dengan Kedeputian Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT.

Pihak panitia mengungkapkan, acara ini digelar untuk kontra ideologi di Paciran-Lamongan. Sebab masih besarnya potensi masyarakat di wilayah itu untuk melakukan aksi terorisme atau ber-hijrah ke 'Daulah Islamiyah' ciptaan Abu Bakar Al Baghdady.

Tercatat telah lebih dari 20 kepala keluarga yang telah berada di Suriah. Dengan dihadirkannya napi teroris Ali Imron dan Umar Patek ini, diharapkan bisa masyarakat bisa berpikir seribu kali dan menolak untuk ajakan hijrah atau melakukan aksi terorisme.

(idh/dra)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini