Acara yang digelar di Aula Janaka, Pendopo Kabupaten Purwakarta pada Senin (29/8/2016) itu juga dihadiri oleh para lurah dan camat di Kabupaten Purwakarta.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
"Saya minta setiap desa membuat buku sejarah desa dan juga setiap desa punya perayaan tradisi ulang tahun atau hajat bumi," jelas Dedi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti bisa terlihat nama itu kan pasti memiliki makna, tidak sembarang orang membuat nama itu. Pasti ada visi misi pembangunan di sana," ucapnya.
Dari nama tersebut, kata Dedi, karakter desa bisa diterapkan mulai dari segi pertanian, peternakan, perikanan, pembangunan, hingga pemukiman yang kini sudah ditempati warga. Selain itu dengan seperti itu maka desa memiliki daya tarik untuk wisata sejarah.
Dedi berharap dengan kembali pada visi dan misi pendahulunya desa bisa memiliki daya tarik tersendiri dengan terbangunnya pusat perekonomian yang kuat. Pasalnya selama ini desa hanya menjadi pusat eksploitasi dan cenderung tidak produktif.
Foto: Tri Ispranoto/detikcom |
"Misal Desa Cihanjawar dan Pasanggrahan. Dulunya kan itu satu desa tempat berkumpulnya prajurit sebelum berperang. Dari situ lahir namanya Kampung Cigedogan yang berarti tempat pemandian kuda. Dari situ kita bisa rumuskan bagaimana pembangunan desa bisa terfokuskan hingga lahirlah kampong adat yang kita kenal dengan Kampung Tajur," beber Dedi.
Selain meminta hal tersebut, dalam kesempatan itu pun Dedi mendorong agar para kepala desa segera menyerahkan data rumah warga yang akan masuk dalam program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Sehingga program Purwakarta bebas Rutilahu pada tahun 2017 bisa terealisasi dan selesai. (trw/trw)












































Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Foto: Tri Ispranoto/detikcom