"Sebagian perusahaan besar ikut melakukan pemadaman. Ada satu pesawat super puma dari perusahaan, tapi belum semuanya melakukan. Jadi memang ada tapi belum semuanya," jelas juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di kantornya, Jl Pramuka, Jakarta, Senin (29/8/2016).
Sutopo menjelaskan, antisipasi mesti segera dan cepat. Karena dikhawatirkan kebakaran lahan akan meluas. Sejauh ini ada 138 hotspot dan yang terbanyak berada di Riau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Puncak kebakaran selalu pada bulan September, karena pada saat itu, September paling tinggi. Kita menjamin Kebakaran hutan tidak akan sehebat tahun 2015," tambah dia lagi.
Alasan kebakaran tak akan tinggi karena ada dua faktor yang mempengaruhi kondisi. Pertama, upaya yang dilakukan pemerintah jauh lebih baik dari sebelumnya. Enam provinsi sudah siaga darurat. Satgas darat dan udara masih melakukan Pengamanan.
"Enam propinsi dengan segera sudah menetapkan menjadi darurat. Tahun lalu kita sulit untuk meminta gubernur meminta siaga darurat," imbuhnya.
Yang kedua, di musim kering ini tidak ada El Nino. Kondisi alam mendukung karena kondisi kemarau basah.
"Ada lanina, kalau lanina menguat curah hujan menguat. Akhir 2016 dan awal 2017, akan menghadapi musim hujan. kita akan menghadapi banjir dan longsor yang lebih hebat dari sebelumnya," tutup dia. (dra/dra)











































