Melihat Sekolah Bagi Anak WNI di Ladang Sawit di Malaysia

Melihat Sekolah Bagi Anak WNI di Ladang Sawit di Malaysia

Salmah Muslimah - detikNews
Senin, 29 Agu 2016 15:49 WIB
Melihat Sekolah Bagi Anak WNI di Ladang Sawit di Malaysia
Foto: dok. KJRI Kinabalu
Jakarta - Ada puluhan anak-anak Indonesia di ladang sawit di Kinabalu, Malaysia. Mereka ikut dengan ayah dan ibunya yang menjadi pekerja di ladang sawit.

Anak-anak usia sekolah itu selama ini kerap tak belajar, dan malahan terjun ke ladang sawit ikut membantu orangtua. Hingga kemudian KJRI Kinabalu menjalin kerjasama dengan para manajer ladang sawit tempat WNI bekerja untuk membangun sekolah.

Dalam keterangan yang disampaikan KJRI Kinabalu, Senin (29/8/2016), para manajemen Ladang Sawit Sook dan Ladang Sawit Dalit tempat banyak WNI bekerja, kemudian memberi kesempatan anak-anak WNI bersekolah dengan membangun sekolah dan memberikan gur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ladang Sook memiliki pekerja Indonesia berjumlah 265 orang dan jumlah anak siswa sebanyak 41 anak berusia sekitar 8 tahun (kelas 1 – 2 SD), sedangkan Ladang Dalit memiliki pekerja Indonesia berjumlah 354 orang dan jumlah siswa sebanyak 23 anak berusia sampai dengan 9 tahun (kelas 1 – 3 SD). Para guru yang mengajar berjumlah masing-masing 2 orang dengan guru pamong dari Ladang bertetangga (Ladang Pamol) yang berasal dari Kemendiknas 1 orang.

Loi salah satu manajer di ladang sawit menghargai kerjasama dan bantuan dari KJRI Kota Kinabalu yang meresmikan CLC ini. Dikatakan bahwa kehadiran KJRI KK dapat meningkatkan minat para orang tua untuk menyekolahkan anaknya.

Loi mengaku bahwa selama ini ada juga para orang tua yang mengajak anaknya masuk dalam ladang untuk membantunya "bekerja" mengutip bijih sawit jatuh dan menghasilkan uang. Dirinya telah berusaha mencegah hal ini karena tidak mau ladangnya dituduh telah "mempekerjakan" anak-anak dan itu adalah sebuah pelanggaran hukum.

Sementara Konjen Kinabalu, Akhmad DH. Irfan menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi dan tulus kepada Ladang Sawit Sook dan Dalit yang telah mendukung pelayanan pendidikan anak-anak WNI/Pekerja di ladang masing-masing.

"Saya berharap CLC di kedua ladang ini walau masih seumur jagung, namun para guru yang ada diharapkan dapat lebih cepat mentranfer pengetahuannya kepada anak didinya sehingga bisa mengejar ketinggalannya dengan anak-anak siswa CLC di wilayah lain," tutur Konjen Irfan.

Selama ini anak-anak TKI tidak dapat diterima di sekolah milik pemerintah setempat (Sekolah Kebangsaan) karena regulasi mengatur bahwa sekolah negeri hanya untuk WN setempat. Sudahpun begitu, mendirikan dan menyelenggarakan pendidikan sendiri di negeri Sabah bukan perkara mudah. Selain diperlukan prasarana dan sarana, keberadaan gurupun tidak gampang.

Saat ini Pemerintah cq. KJRI Kota Kinabalu bersama dengan Kemendiknas, SIKK dan pihak terkait telah mendirikan TKB/CLC berjumlah total 216 (termasuk CLC yang baru diresmikan di Sok dan Dalit). Jumlah murid yang telah dilayani berjumlah total 24.000 an anak. Jumlah guru yang dikirim oleh pemerintah berjumlah 323 orang, dan guru lokal berjumlah kisaran seratusan orang. (slh/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads