"Pilgub DKI ini kan saya melihat fenomena parpol yang seperti cacing kepanasan. Sebab di satu pihak ingin menghabisi Ahok, contohnya koalisi kekeluargaan kan semangat dasarnya itu kan dipersatukan dengan suasana anti Ahok, tapi di sisi lain Ahok sendiri kan kinerjanya kan cukup bagus dan itu hasil survei bagus," kata Kepala Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI Syamsuddin Haris, kepada detikcom, Senin (29/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian menunggu titahnya Megawati, itu kan PDIP. Jadi nanti yang akan menentukan keputusannya Megawati," kata Syamsuddin.
Bicara soal kemungkinan keputusan yang akan diambil PDIP, Syamsuddin menduga tak akan jauh dari menduetkan Ahok-Djarot. Apalagi sejumlah kandidat kuat seperti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengisyaratkan menolak diusung ke DKI.
"Saya menduga kuat PDIP akan mendukung Ahok, pertama kinerja, kedua PDIP tidak punya kader yang diusung setelah Risma menolak. Ketiga PDIP tidak mau digembosi pemilihnya sendiri karena 80% pemilih PDIP mendukung Ahok," katanya.
"Sehingga mau tidak mau PDIP akan mendukung Ahok-Djarot," simpulnya.
Sementara itu koalisi kekeluargaan yang kuat di awalnya diprediksi bakal meredup. Apalagi belum jelas siapa yang disepakati bakal diusung di Pilgub DKI.
"Nah di sisi lain koalisi kekeluargaan karena diikat semangat anti Ahok belum memiliki calon yang jelas. Ada Sandiaga tapi belum jelas dengan siapa, dan juga masih membujuk Megawati supaya bergabung dengan koalisi kekeluargaan," pungkasnya.
(van/trw)











































