Sosok di balik berubahnya wajah Desa Mazui adalah Li Yunnan, seorang pengusaha sukses yang merupakan anggota Partai Komunis China. Delegasi Pengurus Golkar yang diundang oleh International Department Communist Party of China (IDCPC) sempat bertemu Li pada Sabtu (27/7/2016).
Perjalanan dari Kota Xi'an yang merupakan ibukota Provinsi Shaanxi menbutuhkan waktu sekitar 2 jam. Sudah ada jalan tol yang menghubungkan hingga ke dekat desa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana di Mazui |
Sebelum tahun 1999, Desa Mazui sangat miskin hingga warga sekitar menyebutnya 'berjamur'. Kehidupan mereka belum modern, bahkan masih ada yang tinggal di gua.
Desa Mazui saat ini |
Lalu, Partai Komunis China menugaskan Li untuk kembali ke desanya dan meningkatkan kehidupan di sana. Pertama-tama, warga Desa Mazui diberi pinjaman dana untuk membangun rumah. Mereka membayar pinjaman itu dengan bekerja di pabrik semen yang dibangun Li.
Mazui jaman dulu |
"Dari penjualan cherry di 1 rumah kaca, omset penjualan setahun mencapai 100 ribu Yuan," jelasnya.
Desa Mazui jaman dulu |
"Setelah studi banding, didapat kesimpulan kalau mengembangkan pariwisata harus seperti ini . Jadi di sini dijadikan desa Eropa style," cerita Li kepada para pengurus Golkar.
Li dan Pengurus Golkar |
"Ada juga yang merayakan pernikahan di sini. Selain itu, warga yang lelah di kota juga bisa beristirahat di sini," ujarnya.
Industri pariwisata di Desa Mazui baru dimulai pada 2014, namun pada 2015 sudah ada 300 ribu turis dalam setahun. Tahun 2016 ditargetkan akan ada 600 ribu turis yang menikmati indahnya Mazui.
Pengurus Golkar pun penasaran dengan cara Li Yunnan mampu memberdayakan warga Mazui untuk mau mengubah pola hidup. Menurut Li, hal itu juga bukan sesuatu yang mudah.
Awalnya, tidak semua warga mau bekerja di pabrik semen dan keluar dari gua. Namun, mereka lalu melihat kehidupan warga lain yang bekerja menjadi semakin baik.
Saat ini, 372 warga Desa Mazui masih tinggal di rumah mereka yang sudah 'eropa style'. Kelak, mereka akan pindah ke apartemen dan rumah itu akan jadi penginapan untuk para turis.
Desa Mazui juga sudah mengembangkan penjualan buah-buahan khas mereka lewat online. Berbagai festival diadakan, di antaranya yang terbaru adalah festival grafiti. Aneka mainan untuk anak-anak juga tersedia.
Salah satu pengunjung Desa Mazui bernama Zhang Jifeng mengajak anak-anaknya untuk menghabiskan akhir pekan di sana. Mereka pun asik berfoto dengan berbagai action figure.
"Di sini suasananya lebih relax," ucap Zhang.
Kunjungan singkat ke Desa Mazui berkesan bagi para pengurus Golkar. Wasekjen Golkar Ace Hasan siap mengabarkan ke Indonesia bahwa ekonomi kerakyatan di China konkrit dan hasilnya bisa dilihat di Mazui.
"Ini menjadi inspirasi untuk membangun ekonomi kerakyatan," kata Ace.
Di ujung pertemuan, Li menyampaikan harapan agar para pengurus Golkar bisa kembali lagi ke Mazui dan memberi masukan. Dia pun memberi 3 kunci kesuksesan 'menyulap' Desa Mazui.
"Yang pertama, kebijakan dari partai. Kedua, hubungan pemerintah bertingkat dari provinsi, kota, dan distrik. Ketiga, dukungan dari warga desa dan kekompakan warga," tutup Li. (imk/faj)












































Suasana di Mazui
Desa Mazui saat ini
Mazui jaman dulu
Desa Mazui jaman dulu
Li dan Pengurus Golkar