Pengamat: PAN Harus Jaga Jarak dengan Muhammadiyah
Senin, 28 Mar 2005 14:00 WIB
Jakarta - Pengamat Politik LIPI Syamsuddin Haris menilai seharusnya PAN (Partai Amanat Nasional) menjaga jarak dengan Muhammadiyah. Selama PAN masih bergantung pada Muhammadiyah, maka PAN tidak akan diuntungkan. Hal ini disampaikan Syamsuddin Haris saat menjadi pembicara diskusi 'Mencari Sosok Ketua Umum PAN Pasca Amien Rais' di gedung Jakarta Media Center (JMC), Jl. Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (28/3/2005). "Selama tidak ada jarak yang jelas antara PAN dan Muhammadiyah, maka tidak akan menguntungkan bagi PAN, yaitu akan menutup meluasnya dukungan terhadap PAN di masa mendatang. Hal ini juga tidak menguntungkan bagi Muhammadiyah, karena menutup berkembangnya partai politik dari Muhammadiyah," kata dia. Saat ini, yang menjadi dilema terbesar bagi PAN adalah identitas PAN sebagai suatu partai. "Apakah PAN masih cenderung malu-malu untuk mewujudkan eksistensinya sebagai partai terbuka dan moderen ataukah masih mengaitkan dirinya dengan Muhammadiyah. Kalau PAN ingin mendekatkan dengan Muhammadiyah, jelas ini tidak akan menguntungkan," ungkapnya. Syamsuddin juga menyatakan, calon ketum PAN nantinya haruslah sosok yang bisa membawa PAN sebagai partai kader, bukan sebagai partai massa. "Tapi, kalau PAN ingin mendekatkan diri dengan Muhammadiyah, maka pemimpin PAN harus punya basis pendukung Muhammadiyah atau kepanjangan tangan Muhammadiyah. Tapi itu tidak akan menguntungkan bagi PAN, karrna saya melihat PAN tidak hanya untuk partai lima tahun mendatang, tapi untuk masa yang akan datang," jelasnya. Selanjutnya, kata Syamsuddin, dilema lainnya adalah pola kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan oleh PAN. "Apakah kepemimpinan konvensional demokratis atau kepemimpinan konvensional yang lebih dari kepentingan institusionalnya," ungkapnya.
(asy/)











































