"Di Jakarta Selatan memang tanda-tanda akan masuk musim hujan pada bulan Agustus kemarin, memang karena ada anomali cuaca," ujar Kepala Bidang Informasi Iklim BMKG Evi Luthfiati saat dihubungi detikcom melalui telepon, Sabtu (27/8/2016) malam.
Ia menjelaskan, saat ini merupakan periode kemarau basah. Hal ini yang membuat indeks curah hujan relatif tinggi. Khusus wilayah Jaksel, intensitasnya sudah mencapai rata-rata 50 ml per sepuluh hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambahkan dia, selain hujan yang diprediksi akan turun dengan intensitas tinggi, masyarakat juga diimbau untuk waspada terhadap angin kencang dan kilat.
"Awan-awan konvektif itu bisa menimbulkan petir, seperti cumolonimbus menyebabkan petir dan angin kencang. Angin kencang tentunya harus diwaspadai. Dinas Pertamanan saya harap segera untuk melihat pohon-pohon yang sudah lapuk, kondisinya yang mengkhawatirkan," urainya.
Sementara itu, secara umum munculnya La Nina akan memicu fenomena Dipole Mode Negatif di mana kondisi suhu muka laut di bagian Barat Sumatera lebih hangat dari suhu muka laut di Pantai Timur Afrika. Hal ini yang kemudian menambah pasokan uap air yang menimbulkan bertambahnya curah hujan untuk wilayah Indonesia Bagian Barat.
Seperti diketahui, sejumlah wilayah di Jakarta terendam banjir akibat hujan yang mengguyur selama beberapa jam. Wilayah jakarta Selatan menjadi titik yang paling parah terdampak banjir. Sejumlah kawasan seperti Kemang, Pesanggrahan, Petogogan hingga Mampang terendam banjir akibat meluapnya Kali Krukut.
Selain di Jakarta Selatan, banjir juga terjadi di beberapa titik di Jakarta Timur seperti Kramat jati dan Kampung Makassar. Ketinggian air di beberapa wilayah tersebut variatif, dari mulai 30-100 cm.
(wsn/hri)











































