Saat detikcom masuk ke ruang pameran, Sabtu (27/8/2016) lagu "O Sarinah" ciptaan Ismail Marzuki menyapa para pengunjung di pintu masuk. Melangkah lebih dalam, ketikan naskah Bung Karno bertema "Nation Building" terpampang cukup besar dengan judul 'Amanat Pemimpin Besar Revolusi'.
![]() |
Yang paling fenomenal dan familiar adalah foto Presiden RI pertama itu saat membacakan teks Proklamasi yang bersebelahan dengan bingkai replika teks Proklamasi. Ada juga foto lainnya, saat Soekarno saat mengucapkan pidato dalam sidang 'Dokuritzu Azyumbi Tyoosokai (BPUPKI)', 1 Juni 1945.
Foto-foto yang dipajang menggambarkan sejarah Indonesia dari rapat PPKI (1945), kabinet pertama RI, pemilu 1955, KTT non blok, konferensi Asia Afrika, hingga beberapa momen penting kekuasaan Presiden kedua Indonesia, Soeharto.
![]() |
Dipamerkan juga foto Soeharto dalam sidang Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma, ketika Indonesia mendapat penghargaan mengenai Swasembada Pangan dari FAO (1985). Kemudian ada juga peresmian bandara Soekarno-Hatta oleh Soeharto pada 1 April 1985.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada juga dua buah pamflet tahun 1949 yang bertuliskan "Awas! Djangan Mau diadu-domba" dan bertuliskan "Kita Sanggup Berdjoang Lama."
Pengunjung yang melewati sudut ini selalu menyempatkan diri untuk melihat pameran foto ini. Hanya saja lebih banyak pengunjung dari kalangan orang dewasa ketimbang remaja.
Selain foto dan video, juga ditampilkan beberapa replika ketikan berkas-berkas bersejarah. Seperti peraturan pemerintah no. 43 th 1985 tentang penggunaan lambang negara, tulisan tangan Rapat Panitia Kemerdekaan Indonesia, dan replika tulisan tangan teks Proklamasi.
![]() |
Beberapa pengunjung tertegun ketika mendengar suara Bung Karno yang berapi-api dalam pidatonya yang disiarkan di TV LED. Semua replika di pameran ini didapat dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Sampai kapan pun, sejarah harus tetap diajarkan kepada generasi penerus bangsa ini, agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya. Seperti yang dikatakan Megawati di pameran ini di hari sebelumnya, "Tanpa arsip kita tak akan tahu siapa kita".
(dra/dra)














































