Ini Penyebab Gempa Italia Telan Banyak Korban Menurut Analisa BMKG

Ini Penyebab Gempa Italia Telan Banyak Korban Menurut Analisa BMKG

Rini Friastuti - detikNews
Sabtu, 27 Agu 2016 14:50 WIB
Ini Penyebab Gempa Italia Telan Banyak Korban Menurut Analisa BMKG
Dampak Gempa 6,2 SR di Italia (Foto: REUTERS/Adamo Di Loreto)
Jakarta - Gempa bumi berkekuatan 6,2 Skala Richter yang melanda kota kecil Amatrice di Italia menelan korban jiwa hingga 281 orang. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menganalisa beberapa faktor penyebab gempa dahsyat tersebut.

"Ada beberapa faktor penyebab mengapa gempa bumi Italia tengah menelan korban jiwa sangat besar. Beberapa faktor antara lain waktu kejadian gempa, kedalaman hiposenter/titik kejadian gempa bumi, tingkat kepadatan penduduk, kualitas bangunan, dan kondisi topografi," ujar Kepala Bagian Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (27/8/2016).

Daryono mengatakan waktu kejadian gempa menjadi salah satu faktor penentu banyaknya jumlah korban. Gempa yang terjadi malam hari akan menelan korban lebih besar jika dibandingkan dengan gempa yang terjadi siang hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gempa Italia yang terjadi pukul 03.36 pagi waktu setempat menunjukkan bahwa saat kejadian bencana seluruh warga sedang tertidur lelap di dalam rumah. Sehingga saat rumah-rumah mereka roboh akibat gempa, maka timbul korban jiwa sangat besar," jelasnya.

Kedalaman hiposenter atau titik kejadian gempa bumi juga berpengaruh. Semakin dangkal hiposenter, maka akan berpotensi semakin merusak.

"Gempa Italia tengah dengan kedalaman hiposenter sangat dangkal hanya 10 kilometer menjadi sangat merusak, karena percepatan getaran tanah di permukaan tanah masih sangat besar dan belum banyak mengalami perlemahan. Selain itu karena kondisi tanah setempat terkadang kurang mendukung, maka hal ini dapat memperbesar efek gempa bumi berupa kerusakan bangunan," kata Daryono.

Tingkat kepadatan penduduk, kata Daryono, juga menjadi faktor penyebab tingginya jumlah korban. Sebesar apapun kekuatan gempa jika terjadi di daerah tidak berpenghuni, maka tidak akan timbul korban jiwa.

"Tetapi gempa dangkal Italia tengah meskipun kekuatannya relatif kecil, karena terjadi di wilayah permukiman padat seperti kota Umbria, Lazio, Amatrice, dan Marche, maka berpotensi menelan korban jiwa sangat besar," ujarnya.

Kualitas bangunan di Italia yang banyak terdiri dari bangunan tua juga menentukan tingkat kerusakan. Bangunan tembok sederhana tanpa besi tulangan, lebih mudah dirusak gempa. Rumah di Italia ternyata tak memiliki standar bangunan yang aman gempa bumi, karena rata-rata terdiri dari bangunan batu bata sederhana tanpa besi tulangan.

"Efek topografi saat gempa bumi juga menjadi faktor yang dapat memperbesar efek gempa. Semakin tinggi tempat di perbukitan akan memicu tingginya percepatan getaran tanah. Zona gempa Italia tengah yang terletak di jalur Pegunungan Apennines memicu terjadinya efek topografi karena wilayahnya merupakan kawasan perbukitan," kata Daryono.

Agar kejadian serupa tak terjadi di Indonesia, BMKG mengimbau agar membangun rumah tahan gempa bumi dengan kualitas tembok yang baik dan besi tulangan yang kuat. Bagi yang belum mampu, disarankan untuk membangun rumah dari bahan kayu atau bambu yang di desain menarik.

"Selanjutnya dilakukan sosialisasi pemahaman terkait kiat-kiat praktis dalam menghadapi gempa bumi, agar masyarakat di daerah rawan lebih memahami konsep penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi," tutupnya. (rni/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads