Dibanding Sekolah Parlemen, Seleksi Caleg Oleh Partai Dinilai Lebih Baik

Dibanding Sekolah Parlemen, Seleksi Caleg Oleh Partai Dinilai Lebih Baik

Elza Astari Retaduari - detikNews
Sabtu, 27 Agu 2016 10:02 WIB
Dibanding Sekolah Parlemen, Seleksi Caleg Oleh Partai Dinilai Lebih Baik
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Ketua DPR Ade Komarudin (Akom) menggagas adanya sekolah parlemen untuk meningkatkan kualitas anggota dewan. Gagasan tersebut dinilai kurang tepat karena tidak efisien dan bisa berimplikasi pada anggaran.

"Perlu ada suatu kajian karena ini berimplikasi terhadap anggaran, kalau melihat kapasitas anggota DPR harus melalui proses seleksi parpol," ungkap anggota Fraksi Partai Hanura DPR, Syarifuddin Sudding di Yango, Myanmar, Sabtu (27/8/2016).

Menurut Sudding, partai politik sebelum mengajukan kadernya untuk menjadi calon legislatif (caleg), perlu melakukan proses filterisasi yang sangat ketat. Calon yang diajukan harus sudah teruji integritas dan kapabilitasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi ketika mereka dipilih rakyat, calon sudah siap. Memang persoalannya saat ini memang masih banyak di antara kita ketika masuk di dewan tidak menunjukkan kapasitasnya," tutur Sudding.

Hal tersebut terbukti dengan banyaknya anggota dewan yang dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Sudding pun menilai peran partai yang paling berpengaruh dalam proses pemilihan caleg.

"Banyak anggota dewan yang dilaporkan MKD. Mereka tidak pahami fungsi-fungsi kedewanan. Kita harus meminta ketika mengajukan anggota harus melalui proses yang ketat ketika saat dipilih sudah siap menjalankan," kata Wakil Ketua MKD tersebut.

Sekolah parlemen dianggap Sudding menjadi tidak efisien. Pasalnya saat seseorang sudah terpilih sebagai anggota dewan, mereka sudah harus mampu bekerja sesuai tugas dan kewajibannya.

"Wacana yang dilontarkan pimpinan dewan akan mereduksi calon anggota dewan sendiri saat dia terpilih, itu (sekolah parlemen) membutuhkan waktu atau proses yang dilakukan. Bisa saja menghambat tugas-tugas yang bersangkutan saat terpilih," ujar Sudding.

"Di samping tidak efisien karena masalah waktu, juga berimpilkasi terhadap anggaran. Sementara kita memahami anggaran yang ada sekarang terjadi penghematan di setiap kementerian dan lembaga. Ketika diwacanakan maka saya kira tidak pada tempatnya," imbuh anggota Komisi III DPR itu.

Sebelumnya, Akom menjelaskan bahwa sekolah parlemen untuk anggota dewan. Tujuannya agar dapat meningkatkan kualitas anggota DPR setelah munculnya wacana ada banyak anggota dewan yang tidak perform.

"Masih dalam pembahasan, anggaran sangat sedikit. Belum ada anggarannya, baru saja pembahasan," ucap Akom, Kamis (25/8). (ear/dra)


Berita Terkait