TPST di Pangkalpinang, Bersih Tanpa Lalat dan Mampu Hasilkan Pupuk Kompos

TPST di Pangkalpinang, Bersih Tanpa Lalat dan Mampu Hasilkan Pupuk Kompos

Nur Khafifah - detikNews
Jumat, 26 Agu 2016 17:36 WIB
TPST di Pangkalpinang, Bersih Tanpa Lalat dan Mampu Hasilkan Pupuk Kompos
Gudang TPST KSM Kawa Begawi (Foto: Nur Khafifah/detikcom)
Pangkalpinang - Mengurusi sampah memang bukan perkara yang menarik. Masih banyak warga yang memandang sebelah mata pekerjaan yang sesungguhnya mulia ini. Padahal sampah harus dikelola agar tidak semakin membebani alam. Apalagi saat ini mayoritas kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di berbagai daerah sudah melebihi batas. Sementara jumlah sampah yang dihasilkan terus bertambah.

Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) menjadi salah satu solusinya. Di TPST, semua sampah diupayakan untuk dimanfaatkan kembali. Sampah basah diolah untuk menjadi kompos, sementara sampah kering dipilah sesuai kategori, dicacah kemudian dijual kembali ke pengepul sampah atau pabrik. Inilah yang dilakukan TPST Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kawa Begawi di Kelurahan Selindung, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, Babel.

Anggota Badan Pelaksana KSM Kawa Begawi, Andreansyah mengatakan, saat ini hampir semua sampah yang masuk ke TPST tersebut dapat diolah kembali. Bahkan mereka sudah menghasilkan output yang bermanfaat dan bernilai ekonomis, yakni pupuk kompos dalam bentuk kering dan cair. Pupuk ini juga telah dijual di kalangan petani setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami juga berkebun kecil-kecilan dengan pupuk ini," kata Andre di KSM Kawa Begawi, Jl Pengayoman, Selindung, Gabek, Pangkalpinang, Babel, Jumat (26/8/2016).

Kebun milik TPST KSM Kawa Begawi

Andre menunjukkan hamparan sayuran yang ditanam oleh para pegawai KSM Kawa Begawi di halaman. Ada pohon terong, jagung, labu hingga nanas. Tanaman-tanaman ini tumbuh subur meski mereka hanya merawatnya di sela-sela pekerjaan mengelola sampah.

Andre menceritakan, proses pengelolaan sampah di TPST ini terbilang higienis. Sampah-sampah yang datang langsung dipilah di meja loading. Sampah basah dimasukkan ke dalam area pembuatan kompos, sementara sampah kering dicuci dan dikeringkan, lalu dikumpulkan sesuai kategorinya. Seperti kardus, botol plastik, botol kaca, kaleng, perkakas bekas dan sebagainya. Botol plastik dengan ukuran yang sama dimanfaatkan kembali sebagai wadah pupuk kompos cair. Mereka kemudian memberikan label baru di luarnya. Sementara kompos kering ditempatkan di karung goni plastik yang juga hasil dari pungutan sampah.

Setelah pemilahan selesai, meja tersebut dibersihkan kembali hingga tak ada noda yang tersisa. Mereka juga menyediakan sabun cuci tangan di beberapa titik seperti di kamar mandi, di dekat keran air dan di salah satu sudut ruangan. Hal ini dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan TPST.

"Kami bahkan sering makan di sini loh (meja loading tempat pemilahan sampah), karena bersih kan," kata Andre sambil tertawa.

Tim pengelola KSM Kawa Begawi

Memang di TPST ini tak seperti tempat pembuangan sampah pada umumnya. Tak ada bau busuk dan lalat-lalat yang biasa selalu menghinggapi tempat kumuh. Bau tak sedap hanya tercium di area pembuatan kompos yang masih baru. Bahkan untuk kompos yang sudah siap dimanfaatkan, tidak menimbulkan bau busuk di sekitarnya.

Selain kompos, di dalam gudang juga dipenuhi ribuan tumpukan botol bekas berbagai ukuran, kardus yang sudah rapi dan rongsokan. Semua barang-barang bekas tersebut tertumpuk dalam kondisi sudah bersih. Hanya saja, TPST ini masih kesulitan menyalurkannya.

"Ini yang kita masih belum dapat, membidiknya ke mana. Atau misalnya ada peluang apa, bisa kita gabungkan dalam satu jenis usaha. Sekarang kami masih mencari dana tambahan dari swasta," kata Andre.

Termasuk penyaluran kompos juga belum optimal, baru dijual ke beberapa anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Padahal jumlah kompos kering maupun cair yang dihasilkan TPST ini sudah cukup banyak.

Kompos cair dari sampah

TPST ini memang masih terhitung baru. Bangunan yang jauh dari pemukiman warga ini, baru selesai dibangun pada Februari 2016, kemudian mulai beroperasi sebulan setelahnya. Dari pegawai yang berjumlah 16 orang, kini hanya tinggal seperempatnya saja, yakni 4 orang. Peralatan TPST juga masih terbatas, baru ada 1 motor pengangkut sampah, mesin pencacah, tempat pembuatan kompos dan gudang penyimpanan sampah.

"Saat ini ada sekitar 80 rumah maupun institusi yang langganan buang sampah ke kami. Biasanya kami jemput pakai motor pengangkut sampah. Setiap hari pasti penuh," ujarnya.

Andre dan tim tengah berupaya untuk meningkatkan jumlah pelanggan sampah, agar output yang mereka hasilkan lebih banyak lagi. Dengan demikian, mereka akan lebih siap jika ada pabrik atau pihak lain yang hendak membeli sampah mereka dalam jumlah besar dan kerja sama lainnya.

"Kami juga berencana kerja sama dengan Dinas Kebersihan, supaya tidak ambil sampah di sekitar sini. Tapi ya itu tadi, kami masih harus tambah armada untuk angkut sampahnya," kata Andre. (khf/trw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads