"Masih 20 juta yang belum mau rekam datanya padahal kan menyangkut orang mau bikin kartu BPJS, cari kerja, bikin paspor harus punya KTP," kata Tjahjo di Kemenko Polhukam, Jl. Medan Merdeka Barat 15, Jakarta Pusat, Kamis (25/8/2016).
Persoalan masih banyaknya orang yang belum membuat e-KTP dikatakan Tjahjo bukan karena blanko e-KTP yang terbatas. Ia kembali mengatakan bahwa blanko e-KTP masih cukup. Ia hanya meminta petugas proaktif meminta blanko bilamana memang kosong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persoalan banyaknya orang yang belum rekam e-KTP dikarenakan orang tersebut belum mengurus e-KTP. Ia menyadari bahwa ada juga masyarakat yang terkendala waktu untuk mengurus e-KTP. Atas dasar itu, ia berpikir untuk mendorong petugas untuk jemput bola datang ke rumah masyarakat.
"Harusnya kan jemput bola bawa motor datangi di pantai di desa. Orang kan susah kalau yang kerja harian dia menyisihkan waktu 2 sampai 3 jam kadang susah," ujar Tjahjo.
Ia menambahkan, sebetulnya bukan hanya rekam e-KTP yang masih belum dilakukan. Pembuatan akte kelahiran pun masih banyak belum melakukan. Namun menurutnya hal itu memang harus dilakukan bertahap.
"Harus bertahap lah. Cukup 2 orang naik motor bawa alat rekam door to door bisa kok sekaligus dengan akta kelahiran. 256 juta (penduduk), baru 60 persen yang punya akte kelahiran," katanya. (dra/dra)











































