Tak Lelah Kenang Sejarah Tragedi di Museum Tsunami Aceh

Nathania Riris Michico - detikNews
Kamis, 25 Agu 2016 17:38 WIB
Foto: dikhy sasra
Banda Aceh - Museum Tsunami Aceh mungkin sudah bolak-balik diulas dan ditulis. Namun, tragedi 12 tahun lalu tak boleh lelah dikenang agar bisa bersiap di masa datang.

Terletak di tengah-tengah kota Banda Aceh di Jalan Iskandar Muda, museum yang dirancang oleh Ridwan Kamil, yang kini jadi Wali Kota Bandung, ini diresmikan pada 2008. Kini museum ini menjadi ikon Aceh sekaligus monumen peringatan atas duka mendalam yang merenggut 300 ribu nyawa saat itu dan mengiringi proses bangkitnya Aceh dari keterpurukan pasca tsunami.

Ketika memasuki museum dengan arsitektur yang elegan ini, Anda akan melewati Space of Fear (Lorong Tsunami), yaitu lorong gelap dan menikung atau yang menjadi pintu masuk museum dengan sensasi air yang memercik keluar dari dinding; seakan-akan pengunjung dibawa kembali ke masa-masa terjadinya tsunami tahun 2004 silam. Selama melewati lorong gelap tersebut, para pengunjung juga akan disambut suara gemuruh ombak seakan mengambarkan suasana mencekam saat tsunami menerjang.

Setelah Space of Fear, pengunjung akan memasuki ruang berkaca yang disebut Memorial Hill yang dilengkapi dengan monitor yang dapat digunakan untuk mengakses informasi mengenai peristiwa tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam. Terdapat 20 monitor yang dibentuk seperti tugu dalam ruangan tersebut.

Museum Tsunami Aceh (Nathania Riris Michicco/detikcom)


Menuju lantai 2, pengunjung akan melewati lorong Space of Confuse dan tiba di sebuah ruangan besar yang disebut Space of Memory (Ruang Kenangan). Ruangan tersebut dipenuhi oleh foto-foto selama dan sesudah tragedi tsunami dan menjelaskan kondisi Banda Aceh saat diluluhlantakkan oleh gelombang laut setinggi lebih dari 30 meter.

Beranjak dari Space of Memory ini, pengunjung akan melihat Space of Sorrow atau Sumur Doa, yaitu bangunan berbentuk bulat sempurna nyaris berbentuk silinder raksasa menyerupai sumur yang diseluruh dindingnya terdapat nama-nama korban tsunami. Ketika memasuki bangunan yang juga disebut The Light of God ini, bisa dipastikan para pengunjung akan bisa merasakan duka lewat ratusan ribu nama-nama yang tertempel di dinding ruangan tersebut karena pada puncak ruangan terlihat kaligrafi arab bertuliskan ALLAH.

(Foto: Grandyos Zafna/detikcom)


Setelah itu pengunjung akan memutari sisi luar sumur raksasa tersebut dan tiba di Space of Hope/Hope Bridge (Jembatan Harapan). Di atas Space of Hope pengunjung akan melihat langit-langit yang berbentuk gelombang laut dan digantungi tulisan 'Damai' atau 'Peace' dalam berbagai bahasa serta bendera 52 negara, seakan menggambarkan uluran tangan dunia bagi korban tsunami Aceh.

(Foto: Nathania Riris Michicco/detikcom)


Puas menikmati pemandangan atap serta kolam di sekeliling jembatan, pengunjung bisa menikmati ruang audio dan ruang 4 dimensi di Tsunami Exhibition Room, dimana terdapat foto raksasa dan artefak tsunami.

Dalam ruangan ini juga terdapat miniatur-miniatur yang menggambarkan Aceh sebelum tsunami dan Aceh sesudah tsunami. Ada pula miniatur tentang Masjid Raya Baiturrahman yang diterjang gelombang, miniatur yang menggambarkan orang-orang yang sedang menangkap ikan di laut dan berlarian menyelamatkan diri saat gelombang yang lebih tinggi dari pohon kelapa menerjang mereka serta miniatur atau bangunan rumah yang porak-poranda oleh gempa sebelum datang air bah menyapu.

Tidak sampai di situ, pengunjung juga dapat menikmati pemutaran film tsunami selama 15 menit dari waktu gempa terjadi, saat tsunami datang hingga saat pertolongan datang di Tsunami Theater. Film dokumenter ini adalah hasil dari rekaman para korban dan saksi mata saat tragedi berlangsung.

Yang lebih menakjubkan, lantai teratas Museum Tsunami Aceh difungsikan sebagai tempat penyelamatan darurat atau Escape Building apabila kembali terjadi tsunami di masa yang akan datang. Tingkat atap ini tidak dibuka untuk umum karena mengingat konsep keselamatan dan keamanan pengunjung, dan hanya akan dibuka saat darurat atau saat dibutuhkan saja.

Jika diperhatikan dari atas, museum yang menghabiskan biaya Rp 140 miliar untuk pembangunannya ini akan terlihat seperti gelombang laut, namun jika dilihat dari sisi bawah akan tampak seperti kapal besar dengan geladak yang luas sebagai tempat penyelamatan. (nwk/nwk)