Sehari Bersama Fethullah Gulen

Gulen: Saya Tidak Pernah Mendukung Erdogan

Arifin Asydhad - detikNews
Kamis, 25 Agu 2016 15:30 WIB
Foto: Fethullah Gulen di kamp kediamannya/foto: Arifin Asydhad
Pennsylvania - Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan dan ulama kharismatik Fethullah Gulen disebut-sebut pernah memiliki kedekatan. Gulen menyatakan sejak awal tak pernah mendukung Erdogan.

"Kami tidak pernah bersama. Dia adalah orang yang pertama kali memulai perlawanan dan permusuhan. Saya, tidak pernah bersikap seperti itu kepada siapapun," ujar Gulen saat ditemui di tempat tinggalnya di Kamp Golden Generation, Worship and Retreat Center (GGWRC), di pedesaan Pensylvannia, Amerika Serikat, Minggu (21/8/2016).

Tahun 1998 lalu, Gulen sempat didatangi Erdogan yang meminta saran mendirikan partai politik Islam, yaitu Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party/AKP). Gulenis, demikian pendukung Gulen biasa disebut, diyakini berperan memenangkan AKP dan Erdogan sebagai perdana menteri pada 2002 lalu. Dari sinilah angapan kedekatan Erdogan dan Gulen muncul.

Gedung dinding kayu yang ditinggali Gulen
Kemudian muncul kasus korupsi yang diduga dilakukan Erdogan menyeruak ke publik pada tahun 2013. Kekayaan Erdogan diketahui meningkat pesat, termasuk memiliki perusahaan kapal yang diatasnamakan anaknya yang saat itu masih kuliah. Ada bukti juga dana miliaran dollar Amerika yang mengalir dari rekening keluarga Erdogan ke luar negeri. Namun, kasus dugaan korupsi yang sempat ramai ini menguap begitu saja.

Dari kasus tersebut Gulen dan Erdogan dikabarkan 'pisah jalan'. Gulen yang terus mengkritisi Erdogan terkait kasus korupsi itu mendapatkan serangan dari si Presiden Turki.

"Setelah kasus korupsi menyeruak di tahun 2013, dia mulai menyerang Hizmet," ujar Gulen.

Selain kasus korupsi itu, hal yang memicu perselisihan kedua tokoh tersebut adalah keinginan Erdogan untuk menjadi amirul mukminin. Namun Gulen tidak mau menyebut Erdogan sebagai amirul mukminin, begitu juga para Gulenis.

Terkait perselisihannya dengan Erdogan, Gulen mengatakan ada sejumlah pihak yang telah mendatanginya untuk meredakan situasi. Gulen mau saja berdamai dengan Erdogan, namun tentu saja dengan syarat.

"Ada beberapa pihak yang mencoba untuk membantu meredakan situasi. Saya bicara kepada mereka, jika dia (Erdogan) mengakui perbuatannya melalui televisi, bahwa dia telah berbohong, memfitnah pengikut hizmet dan saya, saya akan menerimanya. Jika dia meminta maaf maka saya akan memaafkannya. Karena Allah menyuruh kita untuk memaafkan," ujar Gulen.

Mengenai sosok Erdogan, Gulen mengatakan orang nomor satu di Turki itu telah terpengaruh oleh kekuasaan. Padahal awalnya Erdogan berasal dari kalangan sederhana.

"Dia memiliki semacam citra diri untuk dirinya sendiri. Dia berasal dari latar belakang sederhana namun dengan cepat meraih kekuasaan, yang merusak dirinya. Ada pepatah di Turki yang mengatakan 'seorang gipsi menjadi seorang raja, jadi untuk membuktikan dirinya dia menggantung ayahnya'. Siapapun yang datang dari daerah kumuh namun kini punya kekuasaan dan kekayaan untuk menyelundupkan jutaan dolar ke luar negeri, membuat armada-armada dan membangun vila-vila di mana-mana, akan dirusak dan diracuni oleh kekuasaan. Persis seperti Fuhrer dan Saddam, terlalu banyak kekuasaan meracuni dia," ujar Gulen.


(fjp/tor)