Kedua tokoh dari Muhammadiyah membicarakan isu-isu kekinian terutama soal perempuan. Amien menggarisbawahi soal kesetaraan gender.
Persoalan ini, kata Amien, menjadi persoalan yang telah lama ada hingga saat ini. Namun sebetulnya telah tertuang dengan terang benderang di Alquran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara yang bertajuk "Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan untuk Kemandirian Bangsa" digelar di Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ring Road Selatan, Bantul, Kamis (25/8/2016).
"Di (negara) barat, gara-gara ingin membebaskan perempuan. Bahkan mereka menggugat bahasa. Misalnya chairman diganti chairperson," imbuhnya.
Dia juga mengingatkan tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, sekaya apapun sebuah bangsa atas sumber daya alam akan tetap tertinggal tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal senada disampaikan Rahmawati Husein, Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Rahmawati mendorong NA berkemajuan untuk bergerak secara relevan.
"Relevan, maksudnya gerakan yang responsif terhadap dinamika lokal, nasional, dan global. Kemampuan membaca isu atau masalah yang dihadapi," urainya.
Foto: Sukma IP/detikcom |
Selain itu, kata Rahmawati, NA harus berorientasi ke depan dan antisipatif. Bukan malah latah dan terus bernostalgia dengan masa lalu.
Selanjutnya, NA juga dinilai harus terus berinovasi dengan kemajuan teknologi informasi.
"Teguh terhadap karakter nilai agama dan mengagungkan kemanusiaan, semangat untuk berbuat kemaslahatan umat," pesannya.
Muktamar XIII Nasyiatul Aisyiyah (NA) akan dibuka secara resmi, Jumat (26/8) besok. Rencananya, kegiatan ini akan berlangsung hingga Minggu (28/8). (sip/trw)












































Foto: Sukma IP/detikcom