Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi terjadi dengan kekuatan 7,0 SR (versi USGS 6,8 SR). Pusat gempa bumi terletak pada koordinat 20,88 LU dan 94,53 BT, tepatnya di darat pada jarak 31 km arah barat Kota Chauk, Myanmar pada kedalaman 62 km.
Peta guncangan (shake map) menunjukkan bahwa di zona pusat gempa bumi, guncangan mencapai skala intensitas VI MMI. Intensitas sebesar ini berpotensi menimbulkan kerusakan struktur bangunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Daryono berdasarkan data kedalaman hiposenternya, gempa bumi Myanmar ini disebut sebagai gempa bumi menengah. Salah satu karakteristik gempa bumi menengah memiliki spektrum guncang yang luas. Sehingga tidak heran jika gempa bumi ini dirasakan hingga negara India, Bangladesh, China bagian selatan, dan Thailand.
Secara tektonik, ada 2 pembangkit utama gempa bumi di Myanmar, yaitu zona Sesar Sagaing (Sagaing Fault Zone) dan sistem subduksi Lempeng India. Namun demikian pada peristiwa gempa bumi Myanmar kali ini, gempa bumi terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng, dalam hal ini lempeng litosfir India menyusup ke bawah Lempeng Burma ke arah ke timurlaut, dengan laju 44~49 mm per tahun.
"Secara regional, aktivitas seismik di zona subduksi ini terjadi hingga kedalaman 150 km. Data seismisitas Myanmar menunjukkan bahwa hiposenter gempa bumi berada pada bagian litosfir lempeng India yang sudah mulai menukik di zona Benioff. Sementara itu, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dipicu adanya penyesaran naik atau deep thrust event," jelas Daryono.
Daryono mengatakan Myanmar sudah beberapa kali mengalami gempa bumi kuat dan merusak. Peristiwa gempa bumi merusak terakhir di Myanmar terjadi bulan Maret 2011 lalu, dimana gempa dangkal dengan skala 6,9 SR menimbulkan kerusakan hingga intensitas IX MMI. Sedikitnya 74 orang meninggal akibat gempa bumi yang berpusat dekat perbatasan Myanmar Thailand and Laos ini.
Peristiwa gempabumi dahsyat yang terkenal dalam sejarah kegempaan Myanmar adalah gempa bumi berkekuatan 8,0 SR yang terjadi pada bulan September 1946 dan menimbulkan banyak korban jiwa. (slm/nwk)











































