Perancis Bersikeras Cabut Segera Embargo Senjata ke Cina
Senin, 28 Mar 2005 10:39 WIB
Jakarta - Pemerintah Perancis bersikeras untuk segera mencabut embargo senjata Uni Eropa terhadap Cina. Meskipun negara besar Eropa lainnya, Inggris, menginginkan penundaan pencabutan sanksi yang telah berlangsung belasan tahun itu.Presiden Perancis Jacques Chirac gigih untuk mengupayakan pencabutan embargo sesuai rencana awal Uni Eropa, yakni pada akhir Juni 2005 mendatang. Tepatnya, saat kepresidenan Uni Eropa yang beranggota 25 negara itu berpindah dari Luxembourg ke Inggris.Namun pemerintah Inggris baru-baru ini menyatakan bahwa pencabutan sanksi atas Cina itu kemungkinan ditunda. Penundaan ini sebagai respons atas disahkannya Undang-Undang antipemisahan Taiwan oleh parlemen Cina pada 14 Maret lalu. UU tersebut mengizinkan penggunaan kekerasan terhadap Taiwan jika pulau itu mengambil langkah-langkah untuk menyatakan kemerdekaan sebagai sebuah negara.Rencana pencabutan embargo senjata ini ditentang keras oleh Jepang dan Amerika Serikat. Kedua negara itu sepakat untuk bekerja sama menentang pencabutan sanksi penjualan senjata ke Cina.Chirac mengakui bahwa peemrintah Jepang mengkhawatirkan penjualan senjata ke Cina jika embargo tersebut diakhiri. "Perdana Menteri (Junichiro Koizumi) mengatakan kepada saya tentang kekhawatirannya. Dia minta penjelasan saya," tukas Chirac pada konferensi pers di Tokyo, Jepang usai pembicaraan dengan PM Koizumi."Saya katakan padanya bahwa keputusan Uni Eropa tidak menyangkut perubahan dalam ekspor senjata atau teknologi sensitif ke Cina, mengingat hal itu dikenai aturan yang tidak bisa dilanggar," kata Chirac."Kami yakin bahwa pencabutan ini merupakan upaya sah oleh Cina dan karena itulah kami mengambil keputusan ini," tandas pemimpin Perancis itu seperti diberitakan AFP, Senin (28/3/2005).Embargo penjualan senjata ke Cina diterapkan Uni Eropa sejak tahun 1989 silam. Yakni, sejak militer Cina melancarkan aksi kekerasan terhadap para pendemo pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen. Peristiwa berdarah itu menewaskan ratusan orang.
(ita/)











































