Terkait persoalan ini, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sebelunya menyatakan, masih ada sekitar 13 juta Kartu Indonesia Pintar yang belum didistribusikan. Alasannya yakni banyak data orang miskin di daerah yang belum valid.
Baca Juga: Mendagri Ungkap Kemendikbud Belum Sebar 13 juta KIP
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal itu, koordinator Koalisi Masyarakat Sipil untuk Transformasi Pendidikan (KMSTP) Febri Hendri meminta pemerintah, khususnya Kemendikbud untuk melakukan sinergi data dengan kementerian serta lembaga lainnya.
Ia menilai, data yang tidak sinkron tersebut menjadi peluang penyalahgunaan KIP oleh pihak yang seharusnya tidak mendapat subsidi pendidikan tersebut.
"Pemerintah harus mensinergikan data antar kementerian dan lembaga. Data penerima KIP nggak sinkron dengan data Kemensos. Itu jadi alasan kenapa distribusi KIP nggak berjalan dengan baik. Sekolah dan dinas pendidikan merasa ada peserta penerima KIP yang nggak terdaftar di sekolah mereka," tutur Febri dalam diskusi di Tartine Restaurant, Jl. Jenderal Sudirman, Jakpus, Rabu (24/8/2016).
Febri juga meminta kepada Muhadjir agar KIP tak hanya menjadi fokus semata Kemendikbud. Menurutnya, masih banyak hal krusial dan harus menjadi prioritas demi perbaikan pendidikan di Indonesia.
"Kami berharap Mendikbud dan Presiden Jokowi bahwa pendidikan nggak hanya soal kartu-kartuan. Masalah pendidikan ada soal guru, tata kelola guru, pemerataan guru, kompetensi dan mutu guru, infrastruktur, serta sarana prasarana sekolah," ujar Febri. (nkn/faj)











































