Koordinator KMSTP Febri Hendri menuturkan, jika nantinya wacana Full Day School direalisasikan, Kemendikbud harus siap untuk menambah jumlah guru berkualitas, disertai dengan penambahan anggaran.
"Full Day School harus ada tambahan guru. Harus ada anggaran gaji, tunjangan, serta pensiunnya," ujar Febri dalam diskusi di Tartine Restaurant, Jl. Jenderal Sudirman, Jakpus, Rabu (24/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mulai dari Pak Muhammad Nuh dan Anies (Mendikbud sebelumnya), isu guru sangat penting. Banyak sekolah yang nggak punya guru lengkap, terutama daerah terpencil. Kalaupun ada, banyak guru ini belum melakukan tugas dengan baik. Guru yang rajin pun belum tentu kompeten," kata Eka.
Ia menambahkan, Mendikbud saat ini seharusnya dapat membuat program berkelanjutan untuk pengembangan kapasitas guru dalam bentuk road map yang berkelanjutan.
Perwakilan orang tua murid yang hadir dalam diskusi, Jumono, menambahkan bahwa sistem full day school yang diwacanakan oleh Mendikbud salah kaprah. Sebab, masih banyak terdapat sistem di sekolah yang dinilai belum mumpuni melaksanakan FDS.
"Pak Menteri nggak lihat ada biaya tambahan kalau 8 jam anak ada di sekolah. Sekarang masih banyak sekolah yang nggak nyaman. Anak nggak happy di sekolah. Lebih baik merombak soal kualitas guru kita," tutur Jumono.
Dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, Muhadjir mengatakan Full Day School adalah cara pemerintah untuk mendongkrak yang masih rendah. Sistem tersebut dikemas dalam bentuk pendidikan karakter dengan bermacam aktivitas.
"Full day itu sebenarnya pendidikan karakter. Itu pilihan kita menambah jam belajar di sekolah. Kemudian diisi dengan aktivitas-aktivitas macam-macam. Full day adalah cara mendongkrak sistem pendidikan kita yang masih rendah," ujar Muhadjir.
(nkn/fjp)










































