"Yang sedang kami kembangkan sekarang peralatan untuk mengukur tingkat kekeringan gambut. Alat itu ditanam di dalam tanah, mengukur naik turun air muka di permukaan gambut, mencatat kekeringan dan kebasahan gambut, dan itu membantu early warning," ujar Kepala BRG Nazir Foead usai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (24/8/2016).
Dengan alat deteksi ini, upaya pencegahan kebakaran lahan dapat dioptimalkan dengan menggabungkan analisa cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Tindaklanjut dari deteksi dini yaitu melakukan restorasi lahan gambut berupa pembuatan sekat dan untuk mengembalikan kondisi air lahan gambut agar tidak mudah terbakar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembasahan lahan gambut juga dilakukan dengan membuat sumur bor yang dikerjakan bekerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sumur bor yang dibangun diklaim Nazir dapat menyuplai air dengan debit 4 liter per detik.
"Jadi kalau gambutnya basah kan nggak mungkin terbakar," sebutnya.
Diberitakan sebelumnya, BRG menjalin kerja sama dengan 2 universitas Jepang yakni Universitas Kyoto dan Universitas Hokkaido terkait alat deteksi tingkat kelembaban lahan gambut. Kerja sama yang nota kesepahamannya diteken pada Rabu (10/8) ini sangat penting untuk proses restorasi gambut.
Nilai kerja sama ini mencapai USD 3 juta yang merupakan dana hibah dari Jepang. Dana ini akan digunakan sebagai pembuatan alat untuk memonitor kadar air pada lahan gambut. (fdn/aan)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini