Pratu Wahyudi Gugur, Momen Evaluasi Sistem Pemadaman Kebakaran Lahan

Pratu Wahyudi Gugur, Momen Evaluasi Sistem Pemadaman Kebakaran Lahan

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Rabu, 24 Agu 2016 14:09 WIB
Pratu Wahyudi Gugur, Momen Evaluasi Sistem Pemadaman Kebakaran Lahan
Pratu Wahyudi (Foto: Chaidir Anwar Tanjung/detikcom)
Pekanbaru - Anggota TNI AD, Pratu Wahyudi, meninggal dunia terbakar dalam tugas lakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau. Pemerintah diminta evaluasi tim Satgas dalam bertugas Karhutla.

Demikian pendapat pengamat lingkungan Universitas Riau (UNRI) Prof DR Ir Adnan Kasry. Menurut Adnan, tim Satgas yang terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD dan masyarakat selama ini sudah bekerja maksimal dalam mencegah meluasnya kebakaran lahan di Riau.

"Kita acungkan jempol untuk tim Satgas Karhutla selama ini. Mereka sudah menjalankan tugasnya dengan baik demi menghempang lajunya kebakaran lahan. Itu fakta yang tidak bisa kita pungkiri," kata Adnan dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (24/8/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun demikian, Adnan meminta pemerintah pusat khususnya Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) untuk mengevaluasi sistem kerja Standar Operating Prosedure (SOP) dalam menerjunkan Satgas di lapangan.

"Meninggalnya prajurit dalam tugas Karhutla di Riau ini, harus dijadikan momen untuk mengevaluasi sistem SOP. Saya melihat, Satgas yang bekerja masih jauh dari standar pengamanan sebagaimana layaknya petugas Damkar," kata Adnan.

Evaluasi lainnya, lanjut Adnan, diperhatikan soal kelengkapan tabung oksigen di masing-masing regu. Dan selayaknya, petugas Satgas memiliki perlengkapan pakaian layaknya petugas Damkar yang ada selama ini.

"Harus ditinjau ulang sistem kerja Satgas Karhutla, tolong perhatikan kelengkapan alat kerjanya, harus didampingi di kesehatan," kata Adnan.

Tim kesehatan penting berada di lapangan, lanjut Adnan, apa bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalkan saja, katanya bila ada anggota tim Satgas yang mengalami luka bakar, digigit ular berbisa, sesak nafas karena asap tebal.

"Kita minta sebelum tim Satgas Karhutla diterjunkan ke lokasi, semua perlengkapan mereka dipenuhi. Mereka juga manusia, mereka punya keluarga. Jangan sampai ada korban lainnya seperti Pratu Wahyudi," kata Adnan.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (Dok BPBD)

Evaluasi secara menyeluruh itu, kata Adnan, sangat penting dilakukan pemerintah demi penyelamatan tim Satgas Karhutla di lapangan. Pemerintah jangan hanya menugaskan prajurit tanpa ada standar pengamanan yang memadai.

"Kita tentu berharap, jangan sampai peristiwa yang sama terulang kembali seperti Pratu Wahyudi. Sebab, tugas Karhutla apa lagi di lahan gambut yang terbakar, benar-benar taruhan nyawa. Jadi mohon pemerintah mengevaluasi kembali untuk tim Satgas Karhuta. Kalau soal kemampuan dan kerja kerasnya kita tidak ragukan lagi. Sayangnya, mereka kerja minim standar pengamanan dirinya sendiri," tutup Adnan.

Pratu Wahyudi hilang sejak Kamis (18/8). Saat itu dia tengah memadamkan api bersama aparat gabungan. Prajurit TNI kelahiran Magetan itu ditemukan pada Selasa (23/8). Tubuhnya terluka bakar. (cha/try)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini