Sehari Bersama Fethullah Gulen

Ngaji Tafsir dan Salat Berjamaah

Arifin Asydhad - detikNews
Rabu, 24 Agu 2016 13:04 WIB
Ruang ta'lim/Foto: Arifin Asydhad
Pensylvannia - Ruangan seluas 100 meter persegi di lantai dua gedung utama itu tampak hening begitu saya masuk. Ruangan itu tidak kosong, tapi ada sekitar 40 orang yang sedang mengaji tafsir. Tapi sang guru, Fethullah Gulen, sengaja menghentikan ta'limnya begitu saya bersama beberapa jurnalis lain memasuki ruangan itu.

Kami diminta untuk duduk di sofa yang dibuat melingkari dinding, ciri khas ruang ta'lim ala Turki. Padahal, sebagian besar santri yang mengikuti pengajian duduk lesehan. "Waalaikum salam. Selamat datang di tempat kami. Kami sangat senang dengan kehadiran Anda," kata Gulen dalam bahasa Turki dengan suara yang mengalun seusai kami menyampaikan salam.

Gulen saat diwawancara/Foto: Arifin Asydhad
Saat saya masuk ruangan, jam menunjukkan pukul 10.30 waktu Pensylvannia, Minggu (21/8/2016). Ta'lim telah dimulai sekitar pukul 10.00. Kegiatan ta'lim ini berlangsung setiap hari di ruangan di lantai 2 gedung utama di Kamp Golden Generation, Worship and Retreat Centre (GGWRC) yang berada di kawasan pedesaan Saylorsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat. Kajian utamanya adalah tafsir Al Quran dan Al Hadits, dan presentasi dari murid mengenai sahabat Ibnu Al Arabi.

Para peserta yang mengikuti ta'lim beragam usianya. Ada yang masih pemuda, namun ada juga yang sudah berusia senja. Sebagian besar mereka mengenakan jas warna biru dengan mengenakan peci putih Turki. Ta'lim digelar dengan menggunakan bahasa Turki. Sayang, kami tidak diperbolehkan ambil gambar saat ta'lim berlangsung, dengan alasan keamanan.

Baca Juga: Melihat dari Dekat Kamp Tempat Tinggal Gulen

"Banyak keluarga kami yang ada di Turki. Kasihan mereka. Tolong pahami kami," kata salah seorang pengelola Yayasan Golden Generation. Seusai percobaan kudeta militer 15 Juli 2016 lalu, para pengikut Gulen memang mengalami tindakan represif dari pemerintah Recep Tayyip Erdogan. Banyak keluarga ditangkap karena memiliki anggota keluarga yang menjadi pengikut Gulen. Penangkapan para pengikut Gulen ini dilakukan Erdogan dengan tuduhan terlibat percobaan kudeta.

Ruangan ta'lim
Ta'lim dilakukan dengan membacakan Al Quran dan tafsirnya oleh salah seorang murid. Di hadapan para murid adalah kitab bertulis Sozler. Kitab ini merupakan bagian dari Kitab Nur Risalah yang merupakan kitab tafsir karya Said Nursi Badruzzaman, seorang ulama terkenal asal Kurdi, yang selama ini memang dipelajari Fethullah Gulen. Kitab Nur Risalah ini juga dikenal dengan nama Kitab Badruzzaman. Kemudian Gulen menjelaskan lebih lanjut mengenai tafsir itu.

Begitu juga dengan tafsir hadits. Kitab yang sedang dibahas saat itu adalah Sahih Muslim, yang membahas mengenai bab Salat. Hadits per hadits dibacakan salah seorang muridnya berikut tafsirnya. Suatu waktu Gulen juga menambahkan penjelasan-penjelasannya.

Kitab-kitab Gulen
Tahap terakhir adalah presentasi dari seorang peserta ta'lim mengenai Ibnu Arabi. Biasanya, Gulen meminta para muridnya untuk membaca buku atau kitab, kemudian muridnya mempresentasikan ringkasannya. Ibnu Arabi yang menjadi bahasan ta'lim itu adalah seorang ulama yang juga seorang penganut tasawuf yang hidup di tahun 1165 di Spanyol.

Pengaruh Ibnu Arabi dalam bidang tasawuf, khususnya tasawuf filosofis, sangat luar biasa. Gagasan Ibnu Arabi menyebar luas dan memiliki pengikut yang tidak sedikit, termasuk di Indonesia. Beberapa karya terkenal Ibnu Arabi adalah Fushush al-Hikam, Futuhat al-Makkiyyah, dan Tarjuman al-Asywaq.

Ta'lim ini berjalan dua arah. Para murid bisa menginterupsi dengan memberikan respons atau menyampaikan pertanyaan ke Fethullah Gulen. Atas pertanyaan itu, Gulen pun menyampaikan jawaban dengan bahasa yang mengalun.

Baca Juga: Hidup Sederhana Gulen dan Ruangan 45 Meter Persegi

Ta'lim usai sekitar pukul 12.00. Setelah itu, para murid dipersilakan makan siang. Di kamp ini, makan siang dilakukan bersama di lantai basement gedung berdinding kayu, satu gedung dengan ruangan lama tempat Gulen tinggal. Kami juga ikut makan siang bersama. Makanan yang disajikan cukup sederhana, masi Turki, dua potong lembar daging sapi, semangkuk sup kacang merah, dan yoghurt.

Setelah makan siang, para murid dan Gulen salat duhur berjamaah di ruang ta'lim. Seusai salat duhur, dilakukan doa bersama dan dilanjutkan dengan istirahat. Saat asar tiba, digelar juga salat asar berjamaah. Namun, saat salat asar, yang menjadi imam bukanlah Gulen. Saat itu, Gulen menjadi ma'mum, sedang yang jadi imam adalah muridnya. Sesekali memang Gulen mempersilakan muridnya untuk jadi imam. Seusai salat asar, dilakukan doa bersama dan dilanjutkan tausiyah oleh Gulen.

Bangunan utama Kamp GRWRC
Demikian gambaran mengenai apa saja yang dilakukan Gulen setiap hari di tempat tinggalnya. Kegiatan di kamp berlangsung hingga malam hari. Termasuk juga ada salat tahajud bersama. Semua kegiatan dijalani Gulen dan para muridnya dalam suasana yang sangat tenang. (asy/fjp)