Semua berawal saat Sara dan kekasihnya asal Inggris, David Taylor (34) berpacaran di Pantai Kuta, tepatnya di depan Hotel Pullman, pada Rabu (17/8) tengah malam. Entah karena saking asyiknya bercengkerama atau faktor lain, tas Sara hilang. Di mana hilangnya, tak ada yang tahu.
Di pinggir jalan dekat pantai, David dan Sara bertemu Aipda Wayan Sudarsa yang tengah bertugas saat itu. Dia berseragam dinas, mengaku tak tahu menahu soal tas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ah kamu, polisi pembohong, polisi gadungan," tambah Hadi menirukan ucapan David.
Menurut Hadi, David dalam pengaruh minuman keras, sehingga tak sadar berlaku kasar ke korban. Korban tewas dengan luka tusuk pecahan botol bir.
Selain dengan botol bir, dengan apa David memukul korban? "Pakai handphone 2 kali. (Pakai) Teropong pas di tangga (gerbang masuk ke pantai)," jelas Hadi.
Pengacara David, Haposan Sihombing, membenarkan perkelahian itu. Kliennya merogoh kantong celana korban untuk mencari barang milik kekasihnya. Saat itulah terjadi pergumulan. Sampai-sampai David dan korban saling tindih di pantai.
Haposan belum dapat memastikan soal pemukulan korban dengan teropong dan handphone. "Botol (bir) itu sebetulnya untuk jaga-jaga saja," katanya.
Sementara soal cacian ke korban, Haposan menyebut. "Tidak ada kata bad cop."
Usai kejadian, David dan Sara pergi homestay. Dia pindah penginapan dan membakar pakaiannya. Setelah dihubungi kolega karena dicari polisi, keduanya pergi ke konsulat dan diamankan polisi, Jumat (19/8).
Siapa sebenarnya yang mencuri tas Sara? Polisi dan pengacara sama-sama tidak tahu. Tas itu ditemukan dalam kondisi kosong tak jauh dari lokasi pergumulan David dan korban. Tak ada uang Rp 3 juta dan ATM.
Lalu, benarkah perbuatan sadis David hanya karena tas hilang? Haposan menyebut kliennya akan menceritakan secara utuh di-BAP. "Kita percayakan ke polisi," kata Haposan. (ams/trw)











































