Pembahasan RUU KUHP Dikritisi, Ada Pasal yang Dinilai Ancam Kebebasan Berpendapat

Pembahasan RUU KUHP Dikritisi, Ada Pasal yang Dinilai Ancam Kebebasan Berpendapat

Wisnu Prasetyo, - detikNews
Rabu, 24 Agu 2016 11:47 WIB
Pembahasan RUU KUHP Dikritisi, Ada Pasal yang Dinilai Ancam Kebebasan Berpendapat
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Panitia Kerja RUU KUHP di Komisi III DPR tengah menggodok pembahasan Buku II RUU KUHP untuk pertama kalinya setelah sebelumnya Panja Komisi III telah selesai melakukan Pembahasan BUKU I RUU KUHP. Ada beberapa pasal dalam buku II ini yang dipertanyakan keberadaannya, salah satunya adalah pembahasan terkait kejahatan terhadap ideologi negara.

Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menilai poin-poin yang dibahas dalam pasal-pasal 219-221 mengancam hak asasi manusia dalam hal kebebasan berserikat dan berpendapat.

Dalam Pasal 219 - 221 disebutkan penyebaran ajaran komunisme/marxisme-Leninisme (Pasal 219 dan 220), dan mengenai peniadaan dan penggantian ideologi Pancasila (Pasal 221). Di dalam delik ini, tercantum larangan dengan pidana tinggi terhadap penyebaran ideologi marxisme dan leninisme.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"ICJR mendorong agar DPR menguji kembali keberadaan pasal-pasal tersebut. Pasal-pasal itu berpotensi mengekang hak asasi manusia khususnya hak kebebasan berekspresi dan dalam praktiknya nanti berpotensi menimbulkan banyak tindakan represif terhadap warga negara," ujar Direktur Eksekutif ICJR Supriyadi Widodo Eddyono dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (23/8/2016).

"Pertanyaan paling mendasar adalah apakah masih layak pasal larangan seperti dalam rumusan pasal-pasal tersebut dicantumkan?" sambung dia.

Disebutkan dalam salah satu pasal 219 ayat 1 disebutkan, setiap orang yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud mengubah atau mengganti Pancasila sebagai dasar negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.

Ketentuan ini, kata Supriyadi, banyak menuai kritik dari para pemerhati hak asasi manusia karena perumusannya yang samar/obscure, dan bersifat karet dan lentur sehingga dalam praktiknya berpotensi besar untuk disalahgunakan.

"ICJR mendorong agar DPR melakukan pembahasan secara hati hati terkait pasal pasal kejahatan ideologi teraebut. DPR juga di minta tidak terburu-butu menetapkan pasal tersebut, dan membuka partisipasi dan masukan bagi banyak pihak seperti para pakar hukum, akademisi dan para profesional untuk mempertimbangkan rumusan yang lebih baik," papar dia.

Berikut isi lengkap pasal, 219-221 RUU KUHP:

Bagian Kesatu

Tindak Pidana terhadap Ideologi Negara

Paragraf 1

Penyebaran Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme

Pasal 219

(1) Setiap orang yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud mengubah atau mengganti Pancasila sebagai dasar negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang mengakibatkan:

a. terjadinya kerusuhan dalam masyarakat atau kerugian harta kekayaan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun;

b. terjadinya kerusuhan dalam masyarakat yang mengakibatkan orang menderita luka berat dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun; atau

c. terjadinya kerusuhan dalam masyarakat yang mengakibatkan matinya orang dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.

(3) Tidak dipidana orang yang melakukan kajian terhadap ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud dan tujuan semata-mata untuk kegiatan ilmiah.

Pasal 220

Dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun setiap orang yang:

a. mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga keras menganut ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme;

b. mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada atau menerima bantuan dari organisasi, baik di dalam maupun di luar negeri, yang diketahuinya berasaskan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud mengubah dasar negara atau menggulingkan pemerintah yang sah.

Paragraf 2

Peniadaan dan Penggantian Ideologi Pancasila

Pasal 221

(1) Setiap orang yang secara melawan hukum di muka umum menyatakan keinginannya dengan lisan, tulisan, atau melalui media apa pun untuk meniadakan atau mengganti Pancasila sebagai dasar negara dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun.

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang mengakibatkan:

a. terjadinya kerusuhan dalam masyarakat atau timbulnya kerugian harta kekayaan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun;
b. terjadinya kerusuhan dalam masyarakat yang mengakibatkan orang menderita luka berat dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun; atau
c. terjadinya kerusuhan dalam masyarakat yang mengakibatkan matinya orang dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. (dra/dra)


Berita Terkait