"Lapas salah satu tempat di mana bandar justru leluasa. ini artinya ada kelemahan yang harus dibenahi bersama, karena sampai detik ini masih ditemukan," ujar pria yang akrab disapa Buwas di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (23/8/2016).
"Kita dorong pembenahan dan penertiban supaya tidak terulang kembali. Karena besok-besok bisa saja terjadi lagi di lapas yang ada di Indonesia," sambungnya.
Salah satu langkah pembenahan kata Buwas dengan memisahkan terpidana narkotika kelas kakap dengan napi lainnya. Sehingga hal itu bisa memutus rantai peredaran maupun transfer ilmu pembuatan narkoba.
"Itu mungkin saja dilakukan tapi itu tergantung lapas mau atau tidak melakukan pembenahan," kata Buwas.
Buwas mengatakan hasil produksi sabu lokal tidak berkualitas sempurna. Namun zat adiktif itu tetap dapat membuat orang kecanduan dan teler.
"Kualitas sabu Indonesia ini belum sempurna seperti Cina, ini kalau digolongkan KW 3. Karena yang bersangkutan baru praktik coba-coba tapi sudah bisa kita gagalkan," paparnya.
(ed/rvk)











































