Berkat 'Emas Biru', PNS Ini Bisa Kuliahkan Anaknya Untuk Jadi Dokter

Elza Astari Retaduari - detikNews
Selasa, 23 Agu 2016 08:38 WIB
Pangdam Pattimura di lokasi budidaya ikan. Foto: Elza Astari Retaduari/detikcom
Jakarta - Tak pernah terpikir oleh Jefri Slamta dapat menguliahkan anaknya di Fakultas Kedokteran. Namun berkat program 'Emas Biru', ia dapat mewujudkan cita-cita sang anak.

'Emas Biru' merupakan program yang digagas Pangdam XVI/Pattimura Mayjen Doni Monardo untuk masyarakat di Maluku dan Maluku Utara. Program budidaya ikan tersebut ternyata sangat menjanjikan.

Jefri adalah salah satu yang pertama melakukan budidaya ikan melalui keramba jaring apung. Sudah beberapa kali panen, PNS Denma Kodam Pattimura itu telah mengantongi uang hingga puluhan juta rupiah.

"Saya sebenarnya sudah mulai dari tahun 2009, tapi pakai botol bekas kerambanya. Panen pernah Rp 65 juta dan Rp 35 juta," ungkap Jefri saat berbincang dengan detikcom di lokasi Budidaya Ikan kelompok masyarakat binaan Kodam Pattimura di Waiheru, Kecamatan Baguala, Ambon, pekan lalu.

Panen 'Emas Biru' di Ambon. Dok. Istimewa
Kini Jefri sudah mendapat bantuan berupa keramba dan juga bibit ikan. Ia membudidaya ikan Kerapu yang hasilnya cukup menggiurkan. Sekali panen bisa mencapai hampir Rp 30 juta. Salah satu warga Ambon yang menjadi binaan Kodam Pattimura disebut Jefri bisa mencapai Rp 60 juta sekali panen. Hasil budidaya yang mereka lakukan banyak yang diekspor.

"Dari bantuan Kodam saya sudah panen hampir 400 kg. Sekarang sudah ada 14 kelompok warga binaan di sini. Saya ditunjuk menjadi koordinator lapangan," tuturnya.

Tak hanya memberi bantuan bibit dan keramba, Kodam Pattimura juga melakukan pembinaan dengan pelatihan terhadap masyarakat. Jefri didapuk sebagai salah satu pembawa materi, termasuk bagi Babinsa-babinsa yang berada di pulau-pulau terpencil. Tujuannya agar para Babinsa dapat memberikan pembinaan soal program 'Emas Biru' ini bagi warga di wilayah mereka masing-masing.

"Sejak Program Emas Biru bapak Pangdam, sudah empat kali pelatihan. Pelatihan Budidaya ikan untuk skala ekspor, lobster dan Kerapu. Babinsa diharapkan bisa membantu pembinaan kepada masyarakat. Karena potensi laut dapat menghasilkan uang," kata Jefri.

Jefri memberi pelatihan untuk Babinsa pulau-pulau terpencil. Dok. Istimewa
Bukan isapan jempol semata bahwa hasil dari budidaya ikan cukup menjanjikan. Pasalnya Jefri sudah menjalaninya dan mengatakan selama nelayan tekun, maka 'Emas Biru' benar-benar bernilai separti emas sungguhan.

"Hasilnya sangat menjanjikan, kalau itu ditekuni. Disiplin, manajemen yang baik. Peluang pasar bagus, kita harus sabar. Kebanyakan menang mau instan. Tapi saya contohkan, saya tugas dinas, tapi setiap hari sisihkan waktu di Keramba untuk beri makan ikan," Jefri menuturkan.

Hasil dari budidaya ikan ternyata cukup membantu kehidupan ekonomi Jefri. Ia kini punya modal untuk membawa sang anak mewujudkan mimpinya menjadi seorang dokter.

"Kalau hanya mengandalkan gaji, saya tidak bisa kuliahkan anak saya. Sekarang anak saya sudah semester 5 di Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura," kisahnya.

"Jadi 'Emas Biru' sangat membantu. Salah satu contoh, saat waktunya bayar semester, saya langsung panen ikan. Itu membantu sekali. Yang penting disiplin dan manajemen. Ini peluang baru terbuka, jadi nelayan tidak hanya mengandalkan ikan tangkap," tambah Jefri.

"Dengan budidaya ikan, bisa meningkatkan ekonomi kita. Harga ikan ini diekspor ada yang bisa sampai Rp 700 ribu per kg. Itu lebih dari harga emas. Program ini yang digaungkan Pangdam," lanjut dia lagi.

Sementara itu menurut Kapendam Pattimura Kolonel Hasyim Lalhakim, program 'Emas Biru' mulai dilaksanakan di sejumlah wilayah di Maluku dan Maluku Utara. Program ini sebagai upaya pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) yang dilakukan Pangdam Pattimura untuk peningkatan keamanan daerah setempat.

Kapendam Pattimura meninjau keramba jaring apung
Melalui program ini, termasuk program 'Emas Hijau' (pembibitan tanaman), ada hasil nyata dari lingkungan sosial keamanan. Seperti berdamainya dua desa yang telah puluhan tahun bermusuhan. Kini masyarakat banyak yang meminta Kodam Pattimura memberikan pendampingan dan bantuan di wilayah mereka masing-masing.

"Dari masyarakat banyak yang minta ke Panglima (Mayjen Doni) agar diberi pendampingan untuk membantu pembuatan Keramba Jaring Apung. Kami sedang upayakan. Namun memang kendalanya di bibit," ucap Hasyim pada kesempatan yang sama.

Saat meninjau lokasi budidaya ikan di Waiheru, Hasyim menjelaskan sudah ada 103 keramba apung binaan Kodam Pattimura. Termasuk satu unit (6 kotak keramba) diserahkan untuk diurus satuan Kaveleri.

"Dengan pendekatan prosperity ini, harapannya ekonomi masyakarat semakin bagus. Dengan kesejahteraan yang baik, maka dengan sendirinya keamanan pun semakin terjaga," tutup Hasyim. (elz/dha)