2 WNI yang Bebas dari Abu Sayyaf Masih Dalam Proses Pemulihan Trauma

2 WNI yang Bebas dari Abu Sayyaf Masih Dalam Proses Pemulihan Trauma

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Minggu, 21 Agu 2016 17:26 WIB
2 WNI yang Bebas dari Abu Sayyaf Masih Dalam Proses Pemulihan Trauma
Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Dua orang WNI berhasil kabur dari penyanderaan teroris kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Kedua orang itu bernama Ismail dan M Sofyan.

Menurut Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia & Bantuan Hukum Indonesia (PWNI & BHI) Kementerian Luar Negeri Lalu M Iqbal, saat ini Kemlu lebih memfokuskan pada pemulihan kedua sandera ini. Selain itu, Kemlu juga masih terus meminta informasi terkait penyanderaan ini kepada dua WNI yang selamat.

"Saat ini pemulangan belum menjadi prioritas. Prioritasnya adalah pemulihan trauma dan menggali info sebanyak mungkin dari keduanya untuk kepentingan sandera lainnya," kata Lalu Muhammad Iqbal dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (21/8/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kemlu terus berhubungan dengan keluarga kedua mantan sandera dan sejauh ini keluarga bisa memahami," lanjutnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid mendorong pemerintah untuk mengambil langkah yang lebih taktis untuk membebaskan para sandera tersebut. Selain itu, Meutya menambahkan, kerja sama memperkuat tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Filipina dalam meningkatkan keamanan wilayah serumpun yang telah digagas harus diaplikasikan dalam bentuk yang lebih nyata.

"Kalau penyanderaan, pembebasan militer itu paling akhir. Menurut saya yang paling efektif pendekatan kultural, siapapun entah warga Filipina atau siapa yang punya link dengan kelompok Abu Sayyaf itu dijaring. Kemlu menjaring siapa yang langsung punya link, dikaji bagaimana latar belakang orang itu baru dilist. Kemudian dilakukan pendekatan secara kultural." ujar Meutya saat berbincang dengan detikcom, Jumat (19/8/2016) malam.

Hal itu juga bisa mempercepat proses penyelamatan para sandera. "Hanya saja kan tiga negara ini sepertinya belum secara bersama untuk menetapkan SOP dari bagaimana konkretnya. Hasil pertemuan 3 Menhan (Menteri Pertahanan) itu kan kita dorong terus untuk segera direalisasikan," tegasnya. (yds/rvk)


Berita Terkait