2 Mahasiswi Indonesia Ditangkap di Turki, Kemlu Siapkan Bantuan Hukum

Wisnu Prasetiyo Adi Putra - detikNews
Sabtu, 20 Agu 2016 08:24 WIB
uru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Arrmanatha Nasir (Foto: Ari Saputra/detikFoto)
Jakarta - 2 orang mahasiswi Indonesia ditahan oleh otoritas keamanan Turki karena diduga memiliki hubungan dekat dengan Fethullah Gulen. Pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) tengah mengupayakan bantuan hukum untuk kedua mahasiswi tersebut.

"Kita memiliki pengacara dari KBRI dan kita telah menyiapkan bantuan hukum sebaik-baiknya. Kita ingin memastikan dan memberikan perlindungan hukum kepada kedua mahasiswa tersebut," ujar Juru Bicara Kemlu Arrmanatha Nasir saat dihubungi detikcom, Jumat (19/8/2016) malam.

Pria yang akrab disapa Tata tersebut menambahkan, pihak Kemlu terus berkoordinasi dengan KBRI di Turki untuk memastikan keadaan dua mahasiswa tersebut.

"Yang kita lakukan adalah koordinasi dengan KBRI kita di sana untuk meminta akses, untuk menyampaikan rasa prihatin kita mengenai keadaan seperti itu dari sini. Kemudian kita sudah memanggil dubes Turki atas rasa keprihatinan," kata Tata.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi I Abdul Kharis Al Makhsyari mengimbau seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di Turki untuk menjauhi praktik politik praktis.

Kharis menjelaskan, di tengah situasi perpolitikan Turki yang memanas, tingkat kecurigaan pemerintah terhadap orang asing makin tinggi.

"Saya harap para mahasiswa atau siapapun WNI yang ada di Turki untuk menjauhi praktik politik praktis. Jangan mencari-cari masalah lah ya, apalagi untuk mahasiswa dan pelajar. Mereka tugasnya kan belajar, yaudah belajar aja," ujar Kharis saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (20/8/2016).

Kharis menambahkan, WNI di sana harus lebih hati-hati dalam memilih kegiatan di luar lingkungan sekolah atau kampusnya. Terkait dengan dua mahasiswi yang ditahan Kharis berharap pemerintah bisa segera memberikan pendampingan hukum bagi keduanya.

"Ya kita juga pasti kan akan menindak orang dari negara lain yang berpolitik di negara kita. Jadi sama-sama saling menghargai aja. Pemerintah daklam hal ini Kemlu harus memberikan pendampingan hukum semaksimal mungkin," jelas dia.

"Kita mendorong Ibu Menlu untuk memberikan pernyataan tegas bahwa Turki harus menghormati hak-hak hukum orang Indonesia juga. Kita hrus melakukan advokasi dan pendampingan hukum," sambung Kharis.

Pihak Kemlu sendiri sebelumnya menyebut telah berkomunikasi intens dengan pihak KBRI di Turki sejak mendengar kabar ada 2 mahasiswi Indonesia yang ditangkap di Turki.

"Kita memiliki pengacara dari KBRI dan kita telah menyiapkan bantuan hukum sebaik-baiknya. Kkita ingin memastikan dan memberikan perlindungan hukum kepada kedua mahaiaswa tersebut," ujar Juru Bicara Kemlu Arrmanatha Nasir saat dihubungi detikcom, Jumat (19/8/2016) malam.

Pria yang akrab disapa "Tata" tersebut menambahkan, pihak Kemlu terus berkoordinasi dengan KBRI di Turki untuk memastikan keadaan dua mahasiswa tersebut.

"Yang kita lakukan adalah koordinasi dengan KBRI kita di sana untuk meminta akses. untuk menyampaikan rasa prihatin. Kita mengenai keadaan seperti itn di sini. Kemudian kita sudah memanggil Dubes Turki atas rasa keprihatinan ," kata Tata.

Sebelumnya, mahasiswi Indonesia, DP yang berasal dari Demak dan YU yang berasal dari Aceh ditangkap kepolisian Turki. Keduanya ditangkap karena saat dilakukan penggerebekan berada di rumah milik yayasan Fethullah Gulen. Gulen merupakan orang yang dituding pemerintah Turki berada di balik kudeta.

"2 orang mahasiswi Indonesia telah ditangkap oleh aparat keamanan Turki pada tanggal 11 Agustus 2016 di rumah tinggalnya di kota Bursa, Turki," kata Direktur Perlindungan WNI M Iqbal, Jumat (19/8/2016).

Iqbal menjelaskan, beberapa upaya sudah dilakukan KBRI Ankara untuk memberikan perlindungan kepada keduanya. Pada 12 Agustus 2016 staf KBRI Ankara telah mendatangi kepolisian Bursa untuk meminta akses kekonsuleran. Pada 15 Agustus KBRI menyampaikan nota kepada Kemlu Turki yang meminta klarifikasi dasar penangkapan tersebut. Selanjutnya pada 16 Agustus 2016 KBRI Ankara mendatangi Pengadilan Bursa untuk bertemu dengan Jaksa penuntut.

(Baca juga: 2 Mahasiswi Indonesia Ditangkap di Turki karena Tinggal di Rumah Yayasan Gulen)

(wsn/hri)