MUI Selenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia

- detikNews
Minggu, 27 Mar 2005 11:10 WIB
Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi massa dan lembaga Islam kembali memprakarsai terselenggaranya Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-4. Kongres tersebut rencananya akan diadakan 17-21 April 2005, di Jakarta.Menurut Sekretaris Umum MUI Din Syamsuddin, penyelenggaraan KUII dilatari keinginan umat Islam Indonesia yang tengah menghadapi beragam masalah dan tantangan baik dari dalam maupun luar negeri yang besar dan kompleks."Termasuk kesenjangan antara kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu). Dan lebih dari itu, keberadaan umat Islam Indonesia yang belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tukas Din kepada detikcom, per telepon, Minggu (27/3/2005) pagi.Setelah kongres yang pertama pada 1937 dilanjutkan dengan 1950 dan 1998 maka seharusnya perhelatan umat Islam tersebut diadakan 2004. Tetapi mengingat agenda politik nasional pemilu pada tahun tersebut sangat padat maka penyelenggaraan kongres terpaksa ditunda setahun berikutnya."Rencananya, pembukaan KUII ditandai dengan Tablik Akbar di Masjid Istiqlal, Jakarta, yang diikuti sidang-sidang di Hotel Sahid Jaya, Jakarta. Sampai saat ini, sudah tercatat 700 tokoh umat Islam se-Indonesia yang mewakili beragam organisasi massa dan lembaga Islam akan menghadiri KUII," tutur Din.Ditambahkanmya, KUII akan membahas empat agenda. Pertama, pembahasan konsep dan strategi kebudayaan umat Islam. Sejauh ini organisasi dan umat Islam di tanah air belum sesuai dengan penampilan diri sehingga menjadi kekuatan penentu yang diperhitungkan."Padahal 88,2% penduduk Indonesia atau mencapai 178 juta dari 215 juta penduduk Indonesia beragama Islam," kata Din, yang juga wakil ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.Kedua, konsep dan strategi menghadapi tantangan zaman berupa munculnya kemungkaran akibat merebaknya pornografi, pornoaksi, narkoba dan obat-obat terlarang, serta perjudian yang terorganisasi sehingga menyulitkan untuk diatasi. Ketiga, pembahasan konsep etika beragama dan ukhuwah Islamiyah."Yaitu bagaimana keadaan keberagaman dan kemajemukan menjadi faktor kekuatan, bukan kelemahan. Dan keempat, konsep dan stategi menghadapi tuduhan dunia di luar Islam kepada umat Islam, khususnya umat Islam di Indonesia, seperti yang terkait dengan isu-isu terorisme," demikian Din Syamsuddin.

(fab/)