"Saya enggak merasa fitnah," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (19/8/2016).
(Baca juga: Ahok: Sekda DKI Saefullah Berbahaya, Dia Melawan Saya)
Ahok menyatakan saat Kamis (18/8) kemarin, dia hanya menjawab pertanyaan soal potensi penyalahgunaan wewenang bila pihak petahana tak mengambil cuti kampanye. Bila memang ada potensi penyalahgunaan wewenang, maka yang lebih berpotensi menyalahgunakan wewenang adalah Sekda Saefullah.
"Harusnya Sekda lebih bahaya kalau calon itu bisa memanipulasi PNS karena terbukti dulu pelantikan itu tanpa saya tahu," kata Ahok merujuk contoh peristiwa saat pelantikan PNS pernah dia bubarkan, pada 27 November tahun lalu.
(Baca juga: Marah Besar, Ahok Bubarkan Calon Lurah dan Camat yang Siap Dilantik)
https://m.detik.com/news/berita/3082396/marah-besar-ahok-bubarkan-calon-lurah-dan-camat-yang-siap-dilantik
Bila Sekda menyatakan pelantikan PNS itu hanya bisa dilakukan atas seizin Gubernur, maka kini Gubernur Ahok menyatakan pada pelantikan PNS dulu itu berkas pelantikan PNS disusulkan ke dirinya, laporan yang dia terima tergolong telat sehingga dia belum sempat mengecek satu per satu PNS yang akan dilantik.
"Makanya waktu saya datang, saya kaget. Harusnya itu laporan ke saya. Itu laporannya telat. Makanya saya batalin, saya cek dulu. Berarti kan pernah kejadian, makanya kalau kamu bilang bisa memanipulasi lebih gampang Sekda daripada saya, karena penanggung jawab PNS itu semua Sekda loh," tutur Ahok.
(Baca juga: Tepis Tudingan Ahok, Saefullah: Ini Bukan Soal Lawan Melawan, Tapi Demokrasi)
Ahok berlogika, PNS yang tidak suka dengan dirinya bakal memilih Saefullah daripada memilih dirinya. Sekda adalah penanggung jawab semua PNS.
"Kalau PNS banyak enggak suka saya, PNS lebih pilih Sekda atau saya? Sekda," kata Ahok.
Sekda sendiri juga telah menyatakan tak merasa difitnah. Ahok juga menyatakan hubungan dia dengan Saefullah baik-baik saja.
(dnu/bag)











































