Bulan Budaya Lombok Resmi Dibuka, Banyak PKL Kecipratan Rezeki

Bulan Budaya Lombok Resmi Dibuka, Banyak PKL Kecipratan Rezeki

Ahmad Masaul Khoiri, - detikNews
Kamis, 18 Agu 2016 19:28 WIB
Bulan Budaya Lombok Resmi Dibuka, Banyak PKL Kecipratan Rezeki
Foto: Masaul/detikcom
Lombok - Parade Budaya Nusa Tenggara Barat dan Nusantara jadi pembuka Festival Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) 2016. Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin resmi membuka acara sebulan penuh tersebut.

Muhammad dalam pidatonya mengatakan, wilayahnya merupakan daerah yang menjadi salah satu destinasi wisata nasional dan internasional. Oleh karenanya. Target 3 juta wisatawan akan diimbangi dengan melakukan dengan pembangunan infrastruktur.

"Selain itu kita akan terus melakukan inovasi dalam budaya dan menjaganya. Karena pariwisata menggerakkan sektor yang lainnya. Komponen pendukung transportasi, industri makanan juga akan semakin bergerak dengan adanya kegiatan ini. Menumbuhkan pula bidang ekonomi kreatif dan menurunkan harga yang masih tinggi," kata Muhammad di Jalan Pejanggik, Kamis (18/8/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini upaya yang kita lakukan. Dengan mengucap bismillahirrahma nirrohim saya buka BBLS," imbuh dia.

Hadir dalam acara ini Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwista Nusantara Kemenpar Esty Reko Astuti, Wali Kota Mataram Ahyar Abduh, Wakil Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, dan Kapolda NTB Brigjend Pol Umar Saptono.

Di sisi yang lain, acara-acara seperti ini juga menambah pundi-pundi keuangan bagi para pedagang kaki lima. Salah satunya adalah Narti (48), penjual bakso keliling mengaku senang sekali dengan adanya kegiatan ini. Diakui dirinya bahwa acara-acara seperti harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mencari rezeki.

"Lumayan. Kesempatan nyari uang. Tiap ada tempat acara pasti saya datang. Saya cari. Karena saya perempuan saya cuma jualan di sekitar Kota Mataram saja," kata pedagang asal Desa Meninting, Lombok Barat yang sudah berjualan sejak tahun 1998 itu.

"Alhamdulillah nambah penghasilan juga. Saya kalau pagi jual jamu dan sore ini saya ambil jualan bakso. Nambah banget. Walau penghasilan gak tentu, tapi kalau sampai habis bisa sampai Rp 1 juta jika ada acara seperti ini. Kalau gak habis ya Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu," imbuh dia.

Menurut Narti kegiatan budaya seperti ini amat mendidik. Kata dia tentang budaya daerah, bisa diketahui dari acara seperti ini.

Lain lagi dengan pedagang Wiji Slamet (62) yang sudah 7 tahun berjualan bakso Malang. Ia berasal dari Malang Selatan. Menurut dia, dengan adanya acara-acara seperti ini, dirinya pun ikut terkenal dan berimbas pada melariskan dagangannya.

"Saya di sini tinggal di Kota Mataram. Senang soalnya bisa dikenal orang. Jadi saya ikut dikenal orang. Jadi kalau ada acara saya datang. Kalau gak ada saya keliling kampung," kata Wiji.

"Lebih laris sampai dapat Rp 600 ribu jika habis dan kalau ada acara seperti ini habis. Kalau gak habis dapatnya sekitar Rp 250 ribu. Kalau ada acara ini biasanya habis. Sekarang hari panas, kalau hujan saya sudah kehabisan stok daritadi," ungkap dia yang sudah berjualan sejak tahun 1998 itu.

Acara budaya seperti ini dikatakan wiji sangat bagus untuk menambah pengetahuan. Selain itu dirinya pun terhibur dengan keramaiannya.

"Seneng sekali acara seperti ini. Saya seneng kalau ada ramai-ramai begini. Bertambah pengetahuannya," kata Wiji (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads