detikNews
Kamis 18 Agustus 2016, 06:55 WIB

Anyonghaseo (26)

Gaya Merayakan Kemerdekaan

M Aji Surya - detikNews
Gaya Merayakan Kemerdekaan Foto: Istimewa
Jakarta - Anyonghaseo. 15 Agustus 1945 adalah kemerdekaan Republik Korea. 17 Agustus 1945, Republik Indonesia menyusul merdeka. Hampir bersamaan, kedua bangsa merayakan kemerdekaan dengan cara yang relatif berbeda.

Saya hanya menunggu, melihat dan mengamati fenomena yang terjadi. Persis di saat HUT Kemerdekaan Korsel dua hari lalu tiba, kepala ini tinggal melongokkan ke arah luar jendela apartemen. Dijamin banyak hal akan terlihat khususnya bagaimana aktivitas masyarakat Korea merayakan kemerdekaannya.

Yang jelas, dari daerah Youngdeungpo-ku, malam HUT Kemerdekaan Korea terasa sunyi. Sangat biasa. Jauh dari hingar bingar. Mungkin karena tanggal 15 kemarin bertepatan hari Senin sehingga terjadi libur panjang dan masyarakat banyak pergi keluar kota. Seoul cenderung lebih sepi. Tidak terlihat terlalu banyak bendera dikibarkan. Kemeriahan warna-warni simbol selebrasi kurang tegas dirasakan.

Saya pun kemudian pergi ke beberapa sudut kota. Keadaannya sami mawon. Adem ayem. Tidak ada yang terasa spesial. Mungkin ada beberapa tempat yang dijadikan pusat selebrasi namun tidak dilakukan masyarakat secara masif. Sesekali hanya terlihat pemuda memasang bendera di sepedanya atau angkutan taksi mengibarkan bendera di bagian buntutnya. Lalu Apa makna kemerdekaan ini?

Tepat di hari kemerdekaan tanggal 15 pagi, dari apartemen saya terdengar gaduh. Sempat mengira sekelompok masyarakat melakukan selebrasi, ternyata salah. Yang benar adalah para pekerja sedang mengoperasikan excavator dan suara hilir mudik truk di lahan sebelah. Mereka rupanya sedang bekerja untuk membuat fondasi bagi bangunan yang nantinya berlantai 30-an.

Sampai siang kegaduhan suara itu tetap saja berlanjut seolah mereka melakukan selebrasi dengan kerja keras. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Atau Mungkin mereka lupa hari kemerdekaannya? Wallahu a'lam bisawab.

Di taman pinggir sungai Han, banyak orang duduk-duduk menikmati hari libur sambil berkemahria. Bersama keluarga mereka bertamasya dan bermalam di pinggiran sungai. Maklumlah bulan Agustus ini matahari terasa sangat menyengat di seantero Korea.

Lain lubuk lain belalang. Tetangga saya di Semarang sejak dua minggu menjelang HUT RI ke 71, sudah sangat sibuk dengan berbagai kegiatan selebrasi. Yang pertama adalah menghias kampung dengan aneka simbol Negara, merah putih. Dilanjutkan dengan gotong royong membersihkan lingkungan plus aneka gorengan yang sungguh maknyus. Tidak lupa, jalan sehat satu kampung yang diakhiri dengan makan soto bersama-sama.

Di malam HUT RI kemarin, jalan-jalan ditutup. Orang yang punya mobil harus bersabar dan mencari alternatif angkutan. Maklum di jalan-jalan kampung tersebut dipenuhi panggung yang berisi kemeriahan. Bahkan malam itu semua warga melakukan tirakatan, berdoa bersama atas anugerah kemerdekaan yang telah tercurah.

Setelah tirakatan selesai, puncak acaranya adalah panggung gembira. Kampung saya yang miskin itu dengan bangga menyewa aneka peralatan kemeriahan termasuk perlatan musik modern hingga religi. Malam HUT RI adalah malam penuh kemeriahan dan kebahagiaan dengan biaya yang tidak sedikit.

Di beberapa tempat, terlihat spanduk dengan tema besar yang dicanangkan Pemerintah dalam ultah kali Ini: Kerja Nyata. Logo "71 Indonesia Kerja Nyata" yang diselimuti warna merah putih itu mengingatkan bangsa kita untuk menjauhkan diri dari kepura-puraan. Bekerja giat membangun negeri dengan kesungguhan, bukan sekedar retorika.

Selamat ulang tahun bagi dua bangsa besar di dunia. Usiamu ke 71 tidak tergolong muda lagi. Kesejahteraan rakyat menjadi amanah yang harus dipikul sepanjang masa.

*Penulis adalah WNI tinggal di Seoul, Republik Korea.
(imk/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed