Perjalanan Rini dan Doni untuk sampai di lokasi upacara tidaklah mudah. Dari Ambon rombongan harus menyeberang ke Pulau Haruku sekitar 1,5 jam dengan kapal feri. Tiba di pusat Desa Aboru, Rini dan Doni harus menempuh perjalanan darat kurang lebih sejauh 10 km untuk sampai di lokasi acara. Sebelum bisa menumpang kendaraan, rombongan harus terlebih dahulu berjalan kaki selama sekitar 15 menit.
Perjalan yang harus melewati rute hutan terbayar dengan pemandangan desa yang indah. Bibir pantai di hampir sepanjang wilayah Aboru membuat pengunjung terkesima. Tak heran Rini sempat meminta rombongan berhenti sebentar untuk berfoto dengan latar belakang lautan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Elza Astari R/detikcom |
Tiba di Lapangan Dusun Naira, Desa Aboru, yang berada di tepi pantai, rombongan langsung disambut oleh warga. Drum band pun menambah semarak. Anak-anak sekolah melambai-lambaikan bendera yang dibawa mereka. Meski terik matahari menyengat, upacara peringatan HUT RI ke-71, Rabu (17/8/2016) siang, di salah satu pulau kecil di Maluku berlangsung dengan khidmat.
Mulai dari pegawai PNS, siswa SD hingga SMA, personel TNI/Polri, hingga warga mengikuti proses upacara hingga usai. Pasukan Paskibra dari SMA 3 Pulau Haruku dapat mengibarkan Bendera Merah Putih dengan baik tak kalah dengan pasukan Paskibra di Istana Negara.
Sambutan warga Aboru terhadap perayaan HUT RI di Naira cukup besar. Bahkan siswa TK yang tadinya tidak menjadi peserta upacara pun turut datang untuk mengikuti peringatan HUT RI. Anak-anak kecil ini rela berpanas-panasan hingga akhirnya pihak Kodam Pattimura memindahkan mereka di bawah tenda.
Usai upacara, siswa-siswi SD setempat membawakan lagu daerah dengan iringan pianika. Ketulusan anak-anak ini mendapat sambutan meriah dari Rini dan Pangdam Pattimura. Juga dari Dirut PT Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo yang ikut hadir karena sekaligus ingin memberikan bantuan CSR.
Foto: Elza Astari R/detikcom |
"Peringatan Hari Kemerdekaan bukan hanya diisi dengan perayaan, tapi di HUT ke 71 ini apa sih yang masih perlu kita bantu ke masyarakat. Kita sekarang mencoba ke daerah-daerah yang justru mungkin sebelumnya tidak terlalu terjangkau," ujar Rini di lokasi acara.
Pada kesempatan ini, PT Bank Mandiri difasilitasi oleh Kementerian BUMN dan Kodam Pattimura memberikan sejumlah bantuan. Seperti penyerahan secara seremoni bantuan Bedah Rumah untuk para veteran. Juga bantuan bagi mantan atlet yang mengharumkan nama Maluku dan Maluku Utara.
Selain itu, program CSR BUMN memberikan bantuan pipanisasi atau saluran air bersih karena di Haruku masih kesulitan untuk mendapatkannya. Juga total 10 MCK yang tersebar di desa-desa yang ada di Pulau Haruku. Bahkan Rini melakukan peletakan batu pertama di salah satu lokasi pembangunannya. Pasukan pengibar bendera pun mendapat beasiswa sebesar Rp 5 juta per orang.
"Saya senang dan banggalah karena kemerdekaan bisa turut berpartisipasi untuk bisa membuat masyarakat bersatu. Tentunya kami senang dapat kesempatan untuk membantu masyarakat di sini," kata Rini.
"Terutama program kami Bedah Rumah veteran itu ternyata sangat bermanfaat. Kami ingin coba lebih banyak lagi karena masih banyak sekali para veteran yang belum mendapat rumah yang layak," sambungnya.
Dengan hadir di Pulau Kecil yang cukup jauh dari perkotaan, Rini mengaku senang. Ia mengaku bisa lebih memaknai apa arti kemerdekaan.
"Kalau kota-kota besar sudah bisa merasakan perayaan yang meriah. Tapi justru dari daerah-daerah seperti ini, saya mendapat masukan dari Pak Pangdam perlu sentuhan untuk bisa merasakan apa itu arti kemerdekaan," tutur Rini.
Foto: Elza Astari R/detikcom |
Perayaan HUT RI di Naira juga dimeriahkan oleh lomba-lomba seperti panjat pinang. Kemudian Kodam Pattimura juga mengajak warga Aboru untuk beramah tamah dengan makan siang bersama.
Pihak Kodam Pattimura di bawah pimpinan Mayjen Doni memang melakukan pendekatan kesejahteraan (Prosperity Approach) untuk menanggulangi daerah-daerah rawan. Masyarakat dengan konflik yang cukup besar dirangkul dengan berbagai pembinaan dan bimbingan.
Aboru menjadi salah satu daerah yang secara intens mendapat pendampingan. Sebab daerah ini dikenal sebagai basis dari kelompok RMS. Bahkan pada tahun 2007, enam orang warga Aboru ditangkap karena mengibarkan Bendera RMS ketika menarikan Cakalele di depan Presiden SBY.
"Pendekatan TNI kami sedikit ubah, dengan Prosperity Approach. Jadi pendekatan melalui sosial budaya. Alhamdulillah sekarang di sini sudah lebih baik. Gesekan antar desa, kriminalitas juga kami cermati mengalami penurunan. Semoga pendekatan ini akan membuat semau menjadi lebih baik," ungkap Majyen Doni.
Salah seorang penari Cakalele yang sudah bebas, Josias Sinay (50), mengaku telah bertobat. Puluhan tahun mengikuti paham separatis membuatnya justru mengalami banyak penderitaan.
"RMS merugikan. Saya malah dipenjara, mengorbankan anak-anak saya," ucap Josias.
Bapak dua anak ini mengaku bergabung dengan RMS karena selama ini tidak merasakan keadilan yang merata. Juga kurangnya perhatian pemerintah di Pulau Haruku, terutama Aboru. Namun dengan pembinaan dari Kodam Pattimura, apalagi kehadiran seorang menteri, itu membuat warga setempat merasa diperhatikan. Juga pembangunan-pembangunan yang sedikit demi sedikit mulai masuk.
"Saya rasa sukacita karena selama ini, dengan adanya Bapak Pangdam, sudah jelas sekali perhatiannya. Selama ini negeri ini tidak pernah didatangi bapak-bapak ini. Dari Kodam sekarang juga sering datang beri kami bantuan," papar dia.
"Saya mohon ke depan bisa lebih bagus. Pemerintah tolong jangan lupakan negeri kami. Agar anak-anak saya, generasi mereka bisa lebih bagus lagi. Cukup saya saja yang gagal," tambah Josias yang sempat dalam pelarian di hutan itu.
Foto: Elza Astari R/detikcom |
Pada HUT RI ke-71 ini, Josias dan teman-teman mantan separatis RMS mengaku bisa lebih memaknai apa arti kemerdekaan. Mereka menyebut telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
"Kemerdekaan adalah keadilan untuk semua. Saya berharap jangan cuma di Aboru yang diperhatikan, tapi juga di desa-desa tetangga kami, supaya tidak ada kecemburuan dan kecurigaan," tandasnya. (ear/trw)












































Foto: Elza Astari R/detikcom
Foto: Elza Astari R/detikcom
Foto: Elza Astari R/detikcom
Foto: Elza Astari R/detikcom