Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menjelaskan, proses seleksi Paskibraka untuk Istana Kepresidenan dilakukan secara bertahap yang dimulai dari tingkat kabupaten/kota.
Setelah itu dijaring empat orang untuk mengkuti seleksi di tingkat nasional. Dengan demikian, persoalan administrasi dianggap sudah selesai di tingkat kabupaten/kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tingkat nasional, seleksi dilakukan terhadap empat orang perwakilan provinsi untuk mendapatkan dua yang terbaik. Nama Gloria kemudian muncul sebagai salah satu perwakilan dari Provinsi Jawa Barat.
Persoalan kemudian muncul setelah seleksi tingkat nasional ini selesai/ Saat itu Gloria dimintai paspor untuk program Duta Belia, yakni program ke luar negeri bagi anggota Paskibraka pasca upacara peringatan HUT RI.
"Soal muncul kemudian adalah, seminggu setelah seleksi penentuan dua orang itu, semua peserta dimintai paspor, karena dari rangkaian program Paskibraka itu ada kunjungan Duta Belia, kunjungan ke Malaysia, ke Brunei, itu yang terprogram. Nah, masing-masing diminta paspor. Baru muncul di situ, ternyata paspor Gloria itu Prancis," jelas Imam.
"Baru di situ Garnisun dengan segala kewenangannya melangkah, melihat seperti apa, sampai konsultasi. Kami pun juga begitu, karena kalau sudah persoalan kewarganegaraan itu, persoalan di kementerian lain, makanya kami konsultasi dengan Kementerian Hukum dan HAM. Barulah keluar seperti itu," tambah Imam.
Kini Gloria terpaksa tidak diikutkan dalam Paskibraka 2016 di Istana Merdeka. Imam menegaskan sudah tak ada kemungkinan untuk Gloria bergabung dengan Paskibraka 2016.
"Kami sama juga sebenarnya semangatnya. Kalau melihat individu Gloria luar biasa," imbuh dia. (jor/fdn)










































