Menyapa Mantan Menteri

Filosofi Rumah Joglo Anies Baswedan

Ahmad Toriq - detikNews
Selasa, 16 Agu 2016 09:59 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Anies Baswedan dan keluarga tinggal di rumah joglo nan asri di Jakarta Selatan. Rumah itu dibangun dengan penuh filosofi.

Kediaman Anies terletak di Jalan Lebak Bulus Dalam II, Cilandak, Jakarta Selatan. Rumah yang terdiri dari dua lantai dibangun di atas tanah seluas 1.600 meter persegi. Luas bangunan rumah hanya sekitar seperempat luas tanah.

Bagian paling menarik dari rumah itu adalah bangunan joglo yang terdapat di lantai dua. Luas bangunan joglo itu sekitar 10 x 9 meter persegi. Joglo itu bukan joglo biasa. Kayu-kayunya didatangkan dari Solo, usianya ratusan tahun. Cerita pembangunan joglo itu terbilang menarik.

Bagian depan rumah joglo (Rengga Sancaya/detikcom)

Anies menuturkan setelah membeli tanah seluas 1.600 meter persegi di tahun 2009, dia menghubungi sahabat SMA-nya di Yogyakarta yang merupakan seorang ahli joglo, Danang Anggoro Mukti. Anies minta dibangunkan joglo. Tak disangka, Danang rupanya memang sudah menyiapkan sebuah joglo istimewa.

Cerita soal joglo istimewa ini, pada tahun 2008 Danang ke Ponorogo, Jawa Timur, mencari kayu untuk furniture. Alih-alih mendapatkan yang dicarinya, Danang malah menemukan kayu-kayu besar penyusun rumah joglo, lalu membelinya.

Anies dan anak ketiganya Kaisar Hakam Baswedan bercengkrama di agian dalam joglo (Rengga Sancaya/detikcom)

Kayu-kayu itu kemudian dibawa ke Yogyakarta, lalu direkonstruksi. Prosesnya rekonstruksinya memakan waktu lebih dari satu tahun. Setelah jadi, disimpulkan joglo ini berjenis Satrio Pinayungan.

Sebagai orang yang memahami joglo, Danang melihat bahwa joglo jenis Satrio Pinayungan hanya ada di lingkungan Keraton Surakarta, Jawa Tengah. Sementara joglo ini ditemukan di Ponorogo, Jawa Timur. Setelah dilakukan riset, terungkaplah sejarah di balik joglo tua itu.

Langit-langit joglo (Rengga Sancaya/detikcom)

Sejarahnya -- berdasarkan tulisan Anies soal joglo itu -- di tahun 1742 terjadi pemberontakan di Surakarta. Sunan Pakubuwono II tergusur dan mengungsi melewati dataran tinggi Gunung Lawu hingga berhenti di Desa Tegalsari, Ponorogo, sebuah daerah yang berjarak sekitar 100 Km dari Surakarta. Di sana, dia mendapatkan perlindungan dari tokoh bernama Kyai Kasan Besari.

Tradisi pendidikan ala pondok pesantren di Jawa dimulai oleh Kyai Kasan Besari ini, saat dia membangun pondok di Desa Tegalsari. Pondok itu kemudian dikenal sebagai salah satu pondok pesantren pertama di Pulau Jawa. Pujangga Jawa paling terkenal, Ronggowarsito, tokoh pergerakan Cokroaminoto, dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari adalah santri-santri pondok pesantren Kyai Kasan Besari.

Joglo dipandang dari halaman belakang (Rengga Sancaya/detikcom)

Kembali ke sejarah joglo, Pakubuwono II lalu jadi santri di pondok Kyai Kasan Besari. Setahun setelahnya, Sunan Pakubuwono II dengan didukung Kyai Kasan Besari, para santri, dan warok dari Ponorogo menyerang Surakarta hingga berhasil mengambil kembali Keraton.

Sebagai ungkapan terima kasih, Sunan Pakubuwono II mengangkat Kyai Kasan Besari jadi bupati, tetapi ditolak. Namun pemberian Sunan Pakubuwono berupa tanah di Ponorogo dengan status Perdikan (otonom) diterima. Dan kemudian Sunan menikahkan Kyai Kasan Besari dengan putrinya.



Bagaimana soal joglo itu? Dengan melihat jenis kayu, karakter joglo, kelazimannya, dan merunut studi sejarah, disimpulkan bahwa joglo yang menjadi rumah Anies saat ini merupakan hadiah pernikahan dari Sunan Pakubuwono II kepada Kyai Kasan di tahun 1743. Di joglo yang terletak sekitar 500 meter dari Masjid Tegalsari itulah kemudian Kyai Kasan Besari tinggal dan meneruskan tradisi pendidikan pondok pesantren.

Kembali ke cerita proses pembangunan rumah Anies Baswedan, setelah kayu-kayu joglo itu ada di Jakarta, dimulailah pembangunan rumah. Keseluruhan konsep rumah dirancang oleh Adi Pramono, yang dikenal dengan panggilan Mamo. Rancangan dibuat dengan mempertahankan nilai sejarah joglo. Joglo ditempatkan di atas, dan sebagaimana fungsinya dahulu, tetap dimanfaatkan sebagai kegiatan publik.


Penggarapan konstruksi dipimpin oleh Paulus Mintarja, seorang pegiat konstruksi berbasis lingkungan dan budaya di Surakarta.

"Pembangunan joglo ini merupakan kerja sama Mamo, Danang dan Paulus dalam membuat sebuah restorasi bangunan kuno dan konstruksi bangunan modern yang terbuka -tanpa pagar- dalam setting perkampungan Jakarta," tulis Anies dalam catatan soal joglo itu.

Bagian atas rumah Anies memang difungsikan sesuai filosofi joglo, yaitu untuk kegiatan masyarakat. Di akhir pekan, joglo itu jadi tempat masyarakat sekitar menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan poswindu, semacam posyandu untuk lansia.

Pintu besar di samping rumah yang terbuat dari kayu bekas (Rengga Sancaya/detikcom)

Di bagian bawah, rumah Anies yang dijadikan area privat keluarga juga dibangun penuh filosofi. Berbagai furnitur rumah dibuat dari kayu bekas, yang diolah oleh tukang-tukang 'impor' dari Jawa Tengah. Kayu-kayu bekas itu diakali sedemikian rupa sehingga menjadi perabot yang cantik. Lemari, meja, dan pintu dibuat dari kayu-kayu bekas.

Anies memastikan perabot di rumahnya tak ada yang dibuat dari kayu hasil menebang. Kalaupun ada kayu hasil penebangan, itu pasti berasal dari pohon yang ada di kebun, bukan dari hutan. Filosofinya adalah menjaga kelestarian lingkungan.

Meja yang juga dibuat dari kayu bekas (Rengga Sancaya/detikcom)

Perabot-perabot rumah Anies, seperti yang sudah dijelaskan, dibuat oleh tukang, nyaris tak ada yang membeli jadi. Soal perabot ini pun ada filosofinya.

"Tukang-tukang kita itu terkenal dengan karya-kerajinan. Sekarang itu saya lihat tukang fungsinya bukan lagi sebagai pengrajin, tapi instalator barang-barang buatan pabrik. Seharusnya kerajinan itu dijaga," ujar Anies saat detikcom berkunjung ke rumahnya, Selasa (9/8/2016) lalu.

Ruang keluarga (Rengga Sancaya/detikcom)

Di rumah bawah itu terdapat sejumlah ruangan, yaitu ruang makan, kamar-kamar, ruang keluarga yang terdapat televisi, ruang tamu, dan musala. Ada juga kandang umbar untuk burung-burung peliharaan, yang saat itu dalam kondisi kosong.

Di dekat kandang umbar burung terdapat kamar tamu. Di dekat musala terdapat kamar utama, kamar anak pertama Mutiara Annisa Baswedan (kuliah di Fakultas Hukum UI), dan kamar untuk tiga anak lelakinya Mikail Azizi Baswedan (2 SMA), Kaisar Hakam Baswedan (6 SD), dan Ismail Hakim Baswedan (2 SD) yang jadi satu. Kamar itu nantinya akan disekat seiring pertumbuhan 3 anak-anak lelaki itu. Seluruh kamar di rumah Anies berdinding kaca dan dilengkapi korden besar untuk menghalangi pandangan ke dalam. Anies dan keluarga banyak menghabiskan waktu di area musala, karena merupakan pertemuan tiga kamar.

"Rumah ini sudah menjadi impian saya dan dibangun sesuai kebutuhan keluarga," ujar Anies.

(tor/fjp)