Sidang Tahunan digelar di Ruang Sidang Paripurna, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/8/2016). Hadir Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie, Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri, Ketua DPR Ade Komarudin, Ketua DPD Irman Gusman, Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali, Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat, Ketua Komisi Yudisial Aidul Fitriciada Azhari, Ketua BPK Harry Azhar Azis dan para duta besar serta kepala perwakilan negara sahabat.
Zulkifli memulai pidatonya dengan menceritakan keharmonisan Soekarno-Hatta saat proses penyusunan teks proklamasi. Hal ini dimaknai sebagai simbol persatuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bersatu, bersatu, bersatu!" serunya.
Ia menyebut persatuan harus dimaknai dalam artian luas. Salah satu yang digaris bawahinya adalah persatuan di bidang ekonomi agar tidak kesenjangan. Di mana, negara harus menciptakan kesejahteraan bersama secara merata.
"Jangan biarkan kantong-kantong usaha kecil terus tergusur. Perbedaan pendapatan tidak akan memicu ledakan, tapi perbedaan pendapatan yang menganga akan meledakkan gunung sosial kita," kata Zulkifli.
Jika kondisi itu terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin solidaritas sosial di masyarakat mudah roboh dan goyah. Zulkifli juga menegaskan, kemiskinan dan kesenjangan dapat menjadi lahan subur bagi pertumbuhan fundamentalisme, terorisme dan radikalisme.
"Bila demokrasi hanya memberi keuntungan bagi segelintir orang, sekuat apapun rasa persatuan kita pada akhirnya bisa pecah. Ini bisa menjadi ancaman serius yang sewaktu-waktu menjadi eskalatif," terangnya.
Zulkifli berharap kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan tumbuh di segala lapisan masyarakat. Pemerintah juga diharapkan bisa melakukan pemerataan ekonomi dari Sabang ke Merauke agar tidak ada lagi kecemburuan akibat jurang kesenjangan.
"Semoga ke depan tidak ada lagi disintegrasi nasional, intoleransi dan kekerasan sosial," tutup Zulkifli.
(imk/van)











































