Menyapa Mantan Menteri

Menengok Rumah Joglo Anies Baswedan di Jakarta Selatan

Ahmad Toriq - detikNews
Selasa, 16 Agu 2016 08:03 WIB
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Jakarta - Anies Baswedan memiliki rumah pribadi di wilayah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Meski di Jakarta, namun rumah itu bernuansa Jawa, berbentuk joglo. Dilengkapi halaman luas nan asri dan kicauan burung-burung peliharaan, joglo itu bisa membuat orang lupa sedang berada di Ibu Kota.

Kediaman Anies Baswedan terletak di Jalan Lebak Bulus Dalam II, Cilandak, Jakarta Selatan. Jalan menuju rumahnya tak lebar, hanya muat dilalui satu mobil. Jika dua mobil berpapasan, salah satunya harus mengalah mundur.

Bagian depan rumah joglo (Rengga Sancaya/detikcom)

Di bagian depan rumah Anies, terhampar halaman hijau penuh rumput dan gerbang masuk mobil. Di mulut gerbang itu ada petugas keamanan. Tamu yang datang dipersilakan berhenti di situ, lalu diarahkan berjalan melewati halaman hijau menuju joglo yang terletak di tanah lebih tinggi dari gerbang itu.

Kontur tanah tempat rumah Anies berdiri terbilang unik, karena terdapat beda tinggi. Sisi pinggir jalan lebih tinggi dari halaman belakang. Menurut sang empunya rumah, beda titik tertinggi dengan titik terendah mencapai 4 meter.

Bagian dalam joglo (Rengga Sancaya/detikcom)

Rumah Anies terdiri dari dua lantai. Area privat keluarga ada di lantai bawah. Sedangkan lantai atas, yang berbentuk joglo, difungsikan untuk aktivitas warga sekitar dan menerima tamu. Dari sudut pandang joglo, Anies dan keluarga seolah tinggal di bawah tanah. Namun jika dilihat dari halaman belakang, tak terlihat ada bangunan bawah tanah.

Joglo tempat menerima tamu luasnya sekitar 10 x 9 meter persegi. Di dalam joglo itu terdapat set kursi anyaman rotan yang terlihat sudah tua, lukisan Soekarno-Hatta sedang berbincang akrab, lukisan AR Baswedan, lukisan besar wajah Anies Baswedan, lukisan anak-anak berinisial KHB (kemungkinan inisial anak ketiga Anies, yaitu Kaisar Hakam Baswedan), rak horizontal berisi buku-buku dengan penomoran rapi, beberapa kipas angin yang mengelilingi ruangan, dan empat tiang penyangga. Dan di bagian terasnya terdapat kandang burung kecil berisi seekor lovebird. Dari jendela yang ada di joglo itu, terlihat luasnya tanah kediaman Anies Baswedan. Belakangan diketahui luas tanahnya sekitar 1.600 meter persegi.

Bagian dalam joglo (Rengga Sancaya/detikcom)

Turun ke lantai bawah, tempat Anies dan keluarganya tinggal, langsung terlihat ruang panjang tanpa sekat. Urut dari selatan ke utara, ruang panjang itu memuat ruang makan, kandang umbar untuk burung-burung peliharaan, ruang keluarga yang terdapat televisi, dan ruang tamu tanpa pintu. Rumah Anies memang dikonsep secara terbuka.

Rumah bagian bawah ini menghadap ke utara, ke halaman belakang, sedangkan bangunan di lantai atas menghadap ke selatan, ke arah Jalan Lebak Bulus Dalam II. Di depan ruang tamu terdapat kolam ikan koi dan juga kandang burung kecil berisi seekor cucakrowo. Jadi, tamu yang diterima di lantai bawah bisa berbincang sambil menikmati pemandangan ikan koi di kolam dan kicauan cucakrowo.

Ruang panjang di lantai bawah (Rengga Sancaya/detikcom)

Selain dua ruang itu, di lantai bawah terdapat ruang kerja, musala, dan kamar-kamar. Di dekat kandang umbar burung terdapat kamar tamu. Di dekat musala terdapat kamar utama, kamar anak pertama Mutiara Annisa Baswedan (kuliah di Fakultas Hukum UI), dan kamar untuk tiga anak lelakinya Mikail Azizi Baswedan (2 SMA), Kaisar Hakam Baswedan (6 SD), dan Ismail Hakim Baswedan (2 SD) yang jadi satu. Kamar itu nantinya akan disekat seiring pertumbuhan 3 anak-anak lelaki itu. Seluruh kamar di rumah Anies berdinding kaca dan dilengkapi korden besar untuk menghalangi pandangan ke dalam. Anies dan keluarga banyak menghabiskan waktu di area musala, karena merupakan pertemuan tiga kamar.

Berjalan ke halaman belakang, persis di depan kolam koi, terdapat tanah rata plus sebuah gawang untuk bermain sepak bola. Di halaman belakang itu terdapat berbagai jenis tanaman. Ada juga dua joglo lainnya, yang tak sebesar joglo utama. Satu joglo difungsikan untuk tempat istirahat petugas keamanan. Satu joglo lainnya sedianya disiapkan untuk ruang kerja Anies Baswedan, namun akhirnya dijadikan ruang untuk tamu.

Bagian depan rumah bawah (Rengga Sancaya/detikcom)

Anies menceritakan cara dia mendapatkan tanah seluas itu di wilayah Jakarta Selatan. Sebelum tinggal di rumah itu, Anies mengontrak rumah di Jalan Lebak Bulus I, Jakarta Selatan. Di suatu hari Jumat di tahun 2009, usai salat di masjid di wilayah itu, Anies bercengkrama dengan seseorang yang sebelumnya pernah satu kali disapanya.

"Saya tanya, bapak kerja apa? Dia bilang saya jaga tanah, mau dijual nggak laku-laku, karena di jalan sempit. Wah kebetulan sekali saya sedang mencari tanah. Ya sudah saya lihat. Kenapa tanah ini nggak laku-laku, karena lokasinya memang di jalan sempit, dan semak belukar, tanahnya juga nggak rata," ujar Anies dalam perbincangan dengan detikcom di rumahnya, Jl Lebak Bulus Dalam II, Jakarta Selatan, Selasa (9/8/2016).

Area kamar putri Anies Baswedan (Rengga Sancaya/detikcom)

Mantan Rektor Universitas Paramadina ini tak mempermasalahkan sempitnya akses jalan dan kontur tanah yang tidak rata. Dia lalu menawar, dan akhirnya membeli tanah luas itu.

"Lokasi tanah ini cocok dengan keinginan saya. Saya ingin anak-anak hidup di komunitas kampung. Kalau kita lihat kan ini tanahnya dekat dengan kampung. Dan harganya murah sekali. Meski aksesnya jelek, tapi saya semangat betul dengan tanah ini," ujarnya. Lokasi rumah Anies memang dekat dengan perkampungan warga, menyempil di jajaran rumah-rumah besar di Jalan Lebak Bulus II.

Area kamar anak-anak putra (Rengga Sancaya/detikcom)

Setelah membeli tanah itu, penggagas gerakan Indonesia Mengajar ini belum punya bayangan soal rumah yang akan dibangunnya. Lalu dia menghubungi teman SMA-nya, Danang, seorang ahli joglo. Danang rupanya menyimpan joglo Satrio Pinayungan, joglo khas Solo. Joglo itu memang disiapkan spesial oleh Danang untuk Anies Baswedan. Setelah dijalin komunikasi, kayu-kayu joglo berusia ratusan tahun itu lalu dikirim ke Ibu Kota. Berapa biayanya?

"Itu jawabannya tak cepakke (saya siapkan -red). Dibawa ke sini 2012. Tidak ditransaksikan. Dan saya merancang agar tempat ini untuk masyarakat. Akhir pekan ada PAUD, untuk yasinan, poswindu, itu posyandunya orang tua, lansia periksa dokter datang ke sini," tutur Anies soal joglonya.

Musala (Rengga Sancaya/detikcom)

Kayu joglo itu berusia ratusan tahun. Cerita lebih dalam soal joglo ini akan diceritakan di artikel selanjutnya.

Selain joglo, bagian lain di rumah Anies juga menarik. Lantainya bukan keramik, cuma plesteran semen yang dibuat halus hingga licin ciamik. Furniturenya dibuat dari bahan-bahan daur ulang, semuanya dibuat oleh tukang, bukan beli jadi dan tinggal pasang.

"Dan kayu di rumah ini bukan hasil menebang pohon di hutan. Kalaupun ada yang menebang, itu dari kebun, bukan dari hutan," ujar Anies.

Halaman belakang rumah Anies Baswedan (Rengga Sancaya/detikcom)

Ingin tahu lebih jauh soal rumah Anies Baswedan? Ikuti artikel selanjutnya berjudul "Filosofi Rumah Joglo Anies Baswedan".



(tor/dnu)